TETAP BERADA DITEMPAT SEBELUM IMAM PERGI
Di antara adab bagi seorang makmum salat jamaah setelah selesai salat adalah makmum disunahkan untuk tetap berada ditempatnya dan melarang mereka pergi (meninggalkan tempat) sebelum imam pergi. Salah satu dalilnya hadis berikut ini;
Sunan Abu Dawud
Kitab : Shalat
Berlalu pergi sebelum imam
Hadits : 529
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ بُغَيْلٍ الْمُرْهِبِيُّ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ الْمُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَضَّهُمْ عَلَى الصَّلَاةِ وَنَهَاهُمْ أَنْ يَنْصَرِفُوا قَبْلَ انْصِرَافِهِ مِنْ الصَّلَاةِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-'Ala` telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Bughail Al-Murhibi telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Al-Mukhtar bin Fulful dari Anas bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memotivasi mereka untuk mengerjakan shalat (berjamaah) dan melarang mereka pergi (meninggalkan tempat) sebelum imam pergi.
Sebuah pertanyaan disampaikan kepada Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Sebagian orang berkata, tidak boleh makmum keluar dari masjid selama imam belum berbalik, apakah perkataan ini benar?”
Syekh menjawab, “Ada ihtimal bahwa pendapat tersebut benar. Namun, yang lebih tepat, pendapat tersebut tidak benar. Hukumnya mustahab bagi makmum untuk berdiam diri selama imam belum berbalik. Lebih utama demikian. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
إنِّي إمَامُكُمْ، فلا تَسْبِقُونِي بالرُّكُوعِ ولَا بالسُّجُودِ، ولَا بالقِيَامِ ولَا بالانْصِرَافِ
“Sesungguhnya aku adalah imam kalian. Maka, janganlah kalian mendahului aku ketika rukuk, sujud, berdiri, ataupun al-inshiraf (berpaling).” (HR. Muslim no. 426)
Pendapat yang masyhur dalam memahami hadis ini adalah bahwa al-inshiraf di sini maknanya adalah salam, bukan berbalik ke hadapan makmum. Pendapat yang masyhur adalah salam, sebagaimana perkataan Tsauban,
كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، إذَا انْصَرَفَ مِن صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
“Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau insharafa (salam) dari salatnya, beliau istigfar 3x.” (HR. Muslim no. 591)
Insharafa di sini maknanya salam.
Adapun mengenai berbaliknya imam, maka yang lebih utama para makmum bersabar (tidak pergi) sampai imam berbalik kepada mereka. Ini yang lebih utama. Namun, jika makmum berdiri sebelum imam berbalik, maka dalam pendapat yang tepat, itu tidak mengapa. Karena inshiraf dalam hadis maknanya adalah salam” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, hal. 937)
Makmum boleh pergi dari tempat shalatnya sebelum imam beranjak. Karena apabila telah salam maka telah selesai shalat. Tetapi yang paling utama, makmum tetap duduk sehingga membaca istighfar tiga kali dan berdzikir sesudahnya. Ini yang utama.
Nabi bersabda:
اَلْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِيْ مُصَلاَّهُ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.
Artinya: “Para Malaikat akan selalu bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama ia berada di masjid dimana ia melakukan shalat, hal ini selama ia wudhu’nya belum batal, (para Malaikat) berkata: ‘Ya Allah, ampunilah ia, ya Allah, sayangilah ia”. (HR. Bukhari)
Adapun makmum berdiri (pergi) sebelum imamnya, sebagian fuqoha’ menyebutnya makruh. Yang benar, ia tidak makruh tapi menyelisihi sikap yang utama.
Ringkasnya, tidak makruh dan tidak apa-apa makmum pergi lebih dahulu dari pada imamnya jika ia punya kepentingan. Jika ia pergi sebelum imam menyelesaikan dzikirnya dan sebelum beranjak tanpa udzur maka ia menyelisihi sikap yang lebih utama.
As-syaikh bin baz rahimahullah pernah ditanya tentang masalah ini dan beliau menjawab:
حكم إنصراف المأموم قبل أن ينصرف الإمام إلى المأمومين
السؤال:
بعض الناس بالنسبة لانصراف الإمام أو التفات الإمام للمأمومين يقول: لا يجوز للمأموم أن يفارق المسجد ما لم ينصرف الإمام إليه، هل هذا صحيح أم لا؟
Artinya: “Sebagian orang terkait dengan berbaliknya imam menghadap makmum ( setelah salam) ia mengatakan: Makmum tidak boleh meninggalkan masjid sebelum imam berpaling menghadap mamkum, apakah ucapan ini benar?”
الجواب:
محتمل، والأقرب أنه غير صحيح، لكنه يستحب، يستحب له، والأولى له أن لا ينصرف؛ لقول النبي ﷺ: إني إمامكم فلا تسبقوني بالركوع ولا بالسجود ولا بالقيام ولا بالانصراف والمشهور في الانصراف هنا أنه السلام، ما هو بالانصراف إليهم، المشهور في الصلاة أنه السلام، مثل ما قال ثوبان: “كان النبي ﷺ إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثاً” انصرف يعني سلم، أما انصرافه إليهم فالأولى أن يصبروا حتى ينصرف إليهم، هذا هو الأولى، ولكن لو قاموا قبل ذلك فالظاهر أنه لا حرج؛ إذ الانصراف في الحديث المراد به السلام، هذا هو الظاهر من الأحاديث
نور على الدرب بن الباز
Jawab:
Mungkin, tetapi pendapat yang tepat bahwa ucapan ini tidak benar, karena yang benar hanya dianjurkan, sehingga yang paling utama makmum jangan pergi terlebih dahulu (sebelum imam berpaling), berdasarkan sabda Nabi:
‘sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dengan ruku’, sujud, berdiri atau selesai.'”, pendapat yang masyhur yang dimaksud dengan insirof disini adalah salam, dan yang masyhur didalam shalat adalah salam, seperti ucapan tsauban:” adalah Nabi setelah salam maka beliau beristigfar tiga kali, (insorofa) maksudnya salam, Adapun terkait berpalingnya imam menghadap makmum, maka yang terbaik makmum bersabar terlebih dahulu jangan terburu-buru keluar masjid sampai imam membalikan badan ke makmum, akan tetapi KETIKA MAMKMUM BERDIRI SEBELUM IMAM BERPALING MAKA YANG NAMPAK TIDAK MASALAH; karena yang dimaksudkan insirof dalam hadits adalah salam, inilah yang namapak dalam hadits.
(Fatawa Nur ‘ala al-darb, Syaikh ibnu baz rahimahullah)
Dianjurkan Menunggu Imam
Kesimpulan nya adalah makmum itu dianjurkan menunggu imamnya dan tidak mendahului berpaling setelah shalat akan tetapi anjuran disini bukan lah suatu kewajiban, hanya keutamaan saja, artinya makmum yang ada kepentingan dipersilahkan untuk keluar dari tempat shalatnya tanpa harus menunggu imamnya selesai berdzikir. Ibnu Qasim As-Syafi’i rahimahullah berkata :
وَأَنْ يَمْكُثَ الْمَأْمُومُ فِي مُصَلَّاهُ حَتَّى يَقُومَ الْإِمَامُ مِنْ مُصَلَّاهُ إنْ أَرَادَهُ عَقِبَ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ إذْ يُكْرَهُ لِلْمَأْمُومِ الِانْصِرَافُ ….قَالَ الْكُرْدِيُّ عَلَيْهِ وَظَاهِرُ كَلَامِهِ فِي الْإِيعَابِ أَنَّ انْصِرَافَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ خِلَافُ الْأَوْلَى لَا الْكَرَاهَةُ
Dan Makmum hendaklah tinggal ditempat shalatnya (maksudnya ketika selesai shalat) sehingga Imam berdiri dari tempat shalatnya apabila ia berkehendak untuk berdzikir dan berdo’a karena bagi makmum dimakruhkan berpaling sebelum Imamnya.. Al-Kurdi berkata, ” nampak pada pembicaraannya di kitab Al-I’ab bahwa berpalingnya makmum sebelum Imamnya, menyelisihi yang utama saja dan tidak sampai derajat makruh” ( Tuhfatul Muhtaaz 2/107),
Dan sikap adab yang lebih utama saat shalat berjamaah, agar makmum tidak beranjak sehingga imam beranjak dari tempat duduknya.
Wallahu A’lam


Posting Komentar untuk "TETAP BERADA DITEMPAT SEBELUM IMAM PERGI"