Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKLUMAT KEPADA MEREKA YANG MUSYRIK


Pengertian Musyrik


Musyrik merupakan sebutan dimana seseorang kemudian menyekutukan Allah dan bertentangan dari ajaran tauhid yang mengesakan Allah. Kata syirik sendiri berasal dari kata syirkah atau persekutuan, yaitu mempersekutukan atau membuat tandingan hukum ajaran lain selain dari ajaran atau hukum Allah.


Kemusyrikan yang terjadi secara sosial atau komunal (jama’ah atau bangsa) kemudian dijelaskan pada Surah Ar-Ruum 31-32: “ …dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (Ar-Ruum 30:31).

Jadi fanatisme golongan atau sektarian dengan terpecah belah dari ajaran Allah yang merupakan kemusyrikan besar karena melibatkan manusia secara sosial, diantaranya dengan membuat golongan atau aliran yang bertentangan dengan berbagai sumber hukum Islam (Hadits dan Quran) dengan tujuan kepentingan kelompoknya sendiri serta menciptakan aturan (berlandaskan kepentingan kelompok tersebut). Keadaan ini juga menyebabkan disintegrasi antar manusia, jika terjadi perdamaian maka yang terjadi adalah perdamaian semu, sehingga kehendak Allah pada manusia pun tidak dapat terlaksana karena terjadinya kekacauan.

Tujuan diutusnya Rasulullah SAW sendiri adalah mengintegrasikan kembali manusia dari kondisi berpecah belah, kembali menjadi Umat yang bersatu dalam satu Prinsip atau Asas (Rububiyah). Satu kekuasaan atau Mulkiyah dan satu ketaatan atau Uluhiyah. Sebagaimana yang diriwayatkan hadist berikut ini;

Hadits Arbain Nawawi

الحـديث الثـامن

HADITS KEDELAPAN


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ
[رواه البخاري ومسلم

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah  (Riwayat Bukhori dan Muslim).


Ciri-Ciri Orang Musyrik sendiri terlihat dari bagaimana ia beribadah kepada Tuhan selain Allah SWT, dengan tujuan beribadah kepada selain sang pencipta, ia juga kerap menaati selain Allah SWT dalam hal kemaksiatan dan menyamakan dengan selain Allah SWT dalam hal kecintaannya. Contohnya pada Perilaku Musyrik atau menyembah Sesuatu Selain Allah, sementara perilaku orang musyrik terberat adalah menyembah sesuatu selain Allah SWT.

Misalnya, dalam menyembah patung, makam, batu, kayu, atau benda-benda lain, termasuk manusia. Orang musyrik juga memiliki kepercayaan bahwa benda-benda ini sebagai tuhan yang mampu menciptakan kebaikan dan keburukan. Ia juga Mempersekutukan Allah. Percaya bahwa ada makhluk selain Allah yang juga memiliki banyak sifat-sifat sama seperti Allah merupakan sebuah perilaku musyrik, selain itu menjadikan para pemuka agama sebagai Tuhan juga merupakan perilaku musyrik. Dalam ilmu Tauhid perilaku menuhankan atau mendewakan manusia disebut juga sebagai Ghuluw.


(Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka.

Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung.


Amalan Para Penyembah Kubur


Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi.

Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda).

Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan.


Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39)

Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,

 ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾

Dan perangilah mereka.


Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,

 ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.”

Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan.

Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "MAKLUMAT KEPADA MEREKA YANG MUSYRIK"

close