Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KAIN DALAM SELIMUT WANITA


Pakaian Yang Sederhana Untuk Shalat



Di antara sahnya shalat adalah harus melakukannya dalam keadaan suci, yang berkaitan dengan suci badan, pakaian, dan tempat kita shalat. Untuk badan, kita diperintahkan berwudhu jika berhadas kecil dan mandi jika kita berhadas besar (junub, haid, dan nifas). Terkait tempat dan pakaian, kita diperintah menyucikan tempat dan pakaian untuk shalat dari segala najis.

Allah SWT berfirman, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS al-Muddatsir [74]:4).

Terdapat dalam sunnah dan atsar yang teramat banyak tentang baju atau pakaian yang dahulu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengenakannya. Di antara hadits-hadits tersebut adalah sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengenakan pakaian yang sederhana dan lumrah dipakai oleh kaumnya, beliau tidak pernah menolak apa yang sudah ada dan mempersulit diri mencari-cari yang tidak ada, tidak mengenakan pakaian yang berbeda dengan manusia pada umumnya serta tidak terbatas dengan satu macam jenis kain saja. Bahkan beliau mengenakan semua jenis atau semua macam kain kecuali kain yang terbuat dari sutra. Bahkan di antara macam-macam pakaiannya ada bersifat menutup sekaligus indah.

Para ulama sependapat bahwa menutup aurat adalah wajib sekalipun dengan pakaian yang dipinjam. Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan shalat secara telanjang sedangkan ada pakaian yang dapat dipinjam, atau dia shalat secara telanjang sedangkan ada pakaian yang dibuat dari sutra serta suci, maka menurut pendapat jumhur; kecuali ulama Hambali, shalat yang dilakukan tersebut hukumnya batal. Jika seseorang dijanjikan akan diberi pinjam pakaian, hendaklah ia menunggu selagi tidak menyebabkan terlepasnya waktu shalat. Ini adalah pendapat yang azhar di kalangan ulama Hanafi. Dia juga wajib berusaha membeli pakaian dengan harga yang patut. Sebagaimana hukum yang ditetapkan dalam masalah pembelian air untuk berwudhu, seperti yang telah dibincangkan sebelum ini (Ad-Durrul Mukhtar jilid 1 halaman 283; Al-Majmu’ jilid 3 halaman 193).

Rasulullah ber sabda, “


Sunan Abu Dawud
Kitab : Thaharah

Shalat dengan kain dalam (selimut) wanita


Hadits : 312


حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَشْعَثُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّ فِي شُعُرِنَا أَوْ فِي لُحُفِنَا قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ شَكَّ أَبِي

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Al Asy'ats dari Muhammad bin Sirin dari Abdullah bin Syaqiq dari Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak biasa shalat dengan pakaian atau selimut kami. Ubaidullah berkata; 'Ayahku ragu. '


Hadits : 313


حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يُصَلِّ فِي مَلَاحِفِنَا
قَالَ حَمَّادٌ وَسَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ أَبِي صَدَقَةَ قَالَ سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْهُ فَلَمْ يُحَدِّثْنِي وَقَالَ سَمِعْتُهُ مُنْذُ زَمَانٍ وَلَا أَدْرِي مِمَّنْ سَمِعْتُهُ وَلَا أَدْرِي أَسَمِعْتُهُ مِنْ ثَبْتٍ أَوْ لَا فَسَلُوا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak biasa mengerjakan shalat dengan selimut kami. Hammad berkata; Saya mendengar Sa'id bin Abu Shadaqah berkata; Saya bertanya kepada Muhammad darinya, namun dia tidak menceritakannya hadits ini kepadaku. Dan dia berkata; Saya telah mendengar sejak lama, namun saya tidak tahu dari siapa saya mendengarnya, apakah dari perawi yang tsabat (adil dan memiliki hafalan sempurna) ataukah tidak. Maka dari itu, bertanyalah tentang hadits ini kepada selainku.


Rukhshah dalam hal itu


Hadits : 314


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ بْنِ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الشَّيْبَانِيِّ سَمِعَهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ يُحَدِّثُهُ عَنْ مَيْمُونَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى وَعَلَيْهِ مِرْطٌ وَعَلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ مِنْهُ وَهِيَ حَائِضٌ وَهُوَ يُصَلِّ وَهُوَ عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah bin Sufyan telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq Asy Syaibani dia telah mendengarnya dari Abdullah bin Syaddad dia menceritakan hadits ini kepadanya dari Maimunah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat memakai kain selendang, sementara sebagian istri beliau terkena oleh kain selendang itu dan dia dalam keadaan haidl. Beliau terus melanjutkan shalatnya dengan memakai kain selendang itu.


Hadits : 315


حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ عَائِشَةِ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّ بِاللَّيْلِ وَأَنَا إِلَى جَنْبِهِ وَأَنَا حَائِضٌ وَعَلَيَّ مِرْطٌ لِي وَعَلَيْهِ بَعْضُهُ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' bin Al Jarrah telah menceritakan kepada kami Thalhah bin Yahya dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam, sementara saya berada di samping beliau, padahal saya sedang haidl, dan saya memakai selendangku, di mana sebagian kain itu mengenai beliau.


Shalat dengan menggunakan pakaian yang dipakai ketika jima’ hukumnya boleh dan sah selama pakaian tersebut suci dari najis. Jika pakaian tersebut tidak terkena sesuatu yang najis, meskipun telah digunakan saat jima’, maka boleh digunakan untuk shalat dan shalatnya dinilai sah.

Hal ini sebagimana disebutkan oleh Imam al-Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir berikut;

قال الشافعي ، رضي الله عنه : ويجوز أن يصلى بثوب الحائض ، والثوب الذي جامع فيه الرجل أهله

“Imam Syafii berkata-semoga Allah meridhainya-; boleh seseorang shalat dengan pakaian haidh (yang dipakai ketika haidh), dan pakaian yang digunakan saat seseorang menjima’ istrinya.”

Kebolehan ini berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Daud dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dia berkata;

أنه سأل أخته أم حبيبة زوج النبي صلى الله عليه وسلم هل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في الثوب الذي يجامع فيه قالت نعم إذا لم يكن فيه أذى

“Sesungguhnya dia (Mu’awiyah bin Abu Sufyan) pernah bertanya pada saudarinya, Ummi Habibah, istri Nabi Saw; ‘Apakah Rasulullah Saw shalat dengan menggunakan pakaian yang dibawa jima’?’ Ummu Habibah menjawab, ‘Iya, jika pakaian tersebut tidak terkena najis.’”


Melalui hadis ini dapat diketahui bahwa shalat dengan menggunakan pakaian yang dipakai ketika jima’ hukum tidak masalah. Bahkan Nabi Saw sendiri pernah shalat dengan pakaian yang beliau pakai ketika melakukan hubungan badan dengan istrinya.
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "KAIN DALAM SELIMUT WANITA"

close