Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ADZAN DI TEMPAT YANG TINGGI

Muadzin Memiliki Suara Yang Tinggi

Seorang muslim yang beriman akan tahu keutamaan adzan, mereka akan rindu dan sangat senang. Seorang muslim dengan keimanan yang tinggi akan selalu menanti-nanti adzan dan bersegera memenuhinya, berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf pertama yang memiliki banyak keutamaan. Sampai-sampai akan saling berebut dan jika perlu melakukan undian karena tahu keutamaannya.


Memenuhi adzan merupakan perintah Allah dalam al-Quran agar shalat berjamaah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al-Baqarah: 43).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“makna firman Allah ‘ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.” (Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha hal. 139-141)


Sebagai syiar, maka disunnahkan muadzin (pelantun adzan) memiliki suara yang tinggi sehingga bisa didengar dari jarak yang cukup jauh. Oleh sebab itu, ketika Abdullah menyampaikan mimpinya mengenai kalimat-kalimat adzan kepada Rasululullah ﷺ, maka beliau bersabda, “Sampaikan kepada Bilal, sesungguhnya suaranya lebih tinggi daripada suaramu.” (Riwayat Ahmad).

Selain memiliki suara yang kuat hingga bisa didengar dari jarak yang jauh, disunnahkan juga muadzin memiliki suara yang merdu. Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan dua puluh orang untuk mengumandangkan adzan, dan beliau kagum dengan suara Abu Mahdzurah. (Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Ketika peristiwa Fathu-Makkah terjadi, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan di atas Ka’bah. Adzan di atas menara dimaksudkan agar jangkauan suara lantunan adzan dapat menyebar lebih luas lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadits berikut ini;

Sunan Abu Dawud
Kitab : Shalat

Adzan di atas menara


Hadits : 435


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ امْرَأَةٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ قَالَتْ
كَانَ بَيْتِي مِنْ أَطْوَلِ بَيْتٍ حَوْلَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ عَلَيْهِ الْفَجْرَ فَيَأْتِي بِسَحَرٍ فَيَجْلِسُ عَلَى الْبَيْتِ يَنْظُرُ إِلَى الْفَجْرِ فَإِذَا رَآهُ تَمَطَّى ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَحْمَدُكَ وَأَسْتَعِينُكَ عَلَى قُرَيْشٍ أَنْ يُقِيمُوا دِينَكَ قَالَتْ ثُمَّ يُؤَذِّنُ قَالَتْ وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُهُ كَانَ تَرَكَهَا لَيْلَةً وَاحِدَةً تَعْنِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ayyub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair dari Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najjar dia berkata; Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar Masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya, dia datang pada waktu sahur lalu duduk di atas rumah untuk melihat fajar, apabila dia telah melihatnya, dia menggeliat kemudian berkata; Ya Allah, sesungguhnya saya memujiMu dan memohon pertolongan kepadaMu untuk kaum Quraisy, agar mereka menegakkan agamaMu. Wanita tersebut berkata; Kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Katanya; Demi Allah, saya tidak melihat Bilal meninggalkannya satu malam pun, yakni kalimat-kalimat adzan ini.


Berdasarkan hadits di atas mengumandangkan adzan juga disunnahkan di tempat yang tinggi, seperti menara dan atap. Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, di samping hal ini mengikuti Sunnah, juga agar suara adzan menjangkau tempat yang jauh.

Disebut mengikuti sunnah berdasarkan Hadits dari ‘Aisyah RA, “Tidak ada jarak di antara adzan Bilal dan Ibnu Ummi Maktum kecuali jika salah satu dari mereka turun maka lainnya naik.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).


Sedangkan menara, awal mula dibangun di Masjid Nabawi oleh Khalifah al-Walid I di masa Bani Umayah.. Dan Khalifah Umar bin Abdil Aziz kemudian membangun menara Masjid Nabawi di keempat sudutnya. Sedangkan di Makkah, yang pertama kali membangun menara adalah Abu Ja’far al-Manshur, khalifah kedua Bani Abbasiyah. (Hasyiyah at-Tarmasi, 2/ 516).

Selanjutnya menara tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Di menara masjid-masjid di seluruh wilayah Muslim di malam hari dinyalakan lilin-lilin sebagai penerangan, sebelum masa digunakannya listrik. (Ifadah Dzawil Awham, hal 67).

Ketika menara terang dengan lampu-lampu, maka para penduduk merasa tenang. Sedangkan para musafir menjadikannya sebagai tanda, demikian juga kapal-kapal menjadikan menara masjid yang berada di pesisir sebagai mercusuar.

Menara atau suar dalam arsitektur agama Islam, menyimbolkan tempat dari mana umat beriman dipanggil untuk menunaikan salat lima kali sehari oleh muadzin, atau pemanggil. Menara selalu terhubung dengan masjid dan memiliki satu atau lebih balkon atau galeri terbuka.

Pada zaman Nabi Muhammad, azan dikumandangkan dari atap tertinggi di sekitar masjid. Menara paling awal yang digunakan adalah bekas menara pengawas Yunani dan menara gereja Kristen. Selain memiliki fungsi sebagai tempat untuk memanggil salat, berikut adalah beberapa fungsi menara masjid lainnya yang menarik untuk diketahui.

Mengutip britannica.com, menara masjid dibangun dalam berbagai bentuk, mulai dari yang tebal, jongkok, landai spiral, seperti di Samarra, Irak (dibangun 848–852), hingga menara yang menjulang, halus, setipis pensil.

Seringkali menara masjid ditemui dalam bentuk bujur sangkar di dasarnya, di mana ia melekat pada masjid. Di atas dasar bujur sangkar ini terdapat tangga dalam serangkaian tahap melingkar, heksagonal, atau segi delapan, masing-masing ditandai dengan balkon yang menonjol.

Di bagian atas adalah kubah bulat, paviliun terbuka, atau kerucut berlapis logam. Bagian atas menara masjid biasanya dihiasi dengan ukiran. Jumlah menara per masjid juga bervariasi, dari satu hingga enam. Tujuan menara-menara ini dibangun adalah untuk menjadi “landmark Islam”—agar terlihat dari jauh dan untuk menandai sebuah situs dengan karakter Islami.

Dilihat dari sejarahnya, fungsi menara masjid yang paling utama adalah sebagai tempat muazin (muʾadhdhin, “penyanyi”) untuk menyerukan panggilan beribadah (azan) lima kali setiap hari. Menara dibutuhkan agar kumandang azan terdengar dalam jangkauan yang luas.
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "ADZAN DI TEMPAT YANG TINGGI"

close