Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

HUKUM MENGULANG SHALAT BERJAMAAH


Agama Islam mewajibkan sholat 5 kali sehari, 5 sholat tersebut memiliki waktunya masing-masing.

Setiap sholat wajib (Fardu) dianjurkan untuk berjamaah, boleh juga sholat sendirian jika tak sempat berjamaah dengan adanya alasan tertentu.


Lantas bagaimana  tentang hukum mengulang shalat berjamaah sementara kita sudah selesai mengerjakannya.

Dalam hal ini kita bahagikan kepada dua isu:

• Seorang telah solat jemaah, kemudian solat sekali lagi untuk membantu orang lain mendapat pahala jemaah

• Seorang telah solat sendirian, kemudian solat sekali lagi apabila mendapati ada solat jemaah didirikan


Asalnya, hukum solat fardhu sebanyak dua kali bagi satu waktu tanpa sebarang keperluan adalah makruh. Ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan berikut ini;

Sunan Abu Dawud
Kitab : Shalat

Setelah melaksanakan shalat secara jamaah, kemudian mendapatinya lagi, apakah harus mengulang


Hadits : 491


حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ يَعْنِي مَوْلَى مَيْمُونَةَ قَالَ
أَتَيْتُ ابْنَ عُمَرَ عَلَى الْبَلَاطِ وَهُمْ يُصَلُّونَ فَقُلْتُ أَلَا تُصَلِّي مَعَهُمْ قَالَ قَدْ صَلَّيْتُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُصَلُّوا صَلَاةً فِي يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Husain dari Amru bin Syu'aib dari Sulaiman bin Yasar, mantan sahaya Maimunah dia berkata; Saya pernah datang kepada lbnu Umar sewaktu dia sedang duduk di atas lantai, sementara keluarganya tengah mengerjakan shalat (berjama'ah). Saya berkata; Kenapa kamu tidak ikut shalat bersama mereka? Ibnu Umar mejawab; Saya telah mengerjakan shalat, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mengerjakan satu shalat itu dua kali dalam sehari."


Hukum makruh mengulangi solat fardhu tanpa sebarang sebab ini telah diterangkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ruwaihah dan Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah. Adapun jika untuk mendapat pahala jemaah, maka disunatkan untuk diulangi semula bersama jemaah yang didapatinya. Inilah juga pandangan mazhab Maliki dan Syafi’e. (Rujuk Aun al-Ma’bud bi Syarh Sunan Abi Dawud 2/202, Al-Fatawa al-Kubra, 2/283, Al-Mudawwanah al-Kubra 1/179 dan Raudhah al-Thalibin 1/343)

Ini berdasarkan hadith riwayat Jabir bin Yazid al-Aswadi RA:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ فِي آخِرِ الْقَوْمِ لَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ قَالَ ‏"‏ عَلَىَّ بِهِمَا ‏"‏ ‏.‏ فَأُتِيَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ ‏"‏ مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا ‏"‏ ‏.‏ قَالاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا ‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَلاَ تَفْعَلاَ إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ ‏"‏

MaksudnyaAku menghadiri solat Subuh bersama Rasulullah SAW di Masjid al-Khaif. Tatkala Baginda selesai solat, Baginda melihat dua orang lelaki di bahagian belakang yang tidak solat bersama Baginda. Baginda bersabda: “Mengapa kalian tidak solat bersama kami?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, kami telah solat di tempat permusafiran kami. “Jangan buat begitu. Jika kalian telah solat, dan kalian datang ke masjid dan mendapati solat jemaah sedang berlangsung, hendaklah kalian solat bersama mereka, dan ia akan menjadi solat sunat bagi kamu.

Sunan al-Nasa’ie (858) dan Sunan Tirmidzi (219)

Selain itu, terdapat juga hadith daripada Abu Sa’id al-Khudri, beliau meriwayatkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ رَجُلاً يُصَلِّي وَحْدَهُ فَقَالَ ‏ "‏ أَلاَ رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ ‏"‏

MaksudnyaRasulullah SAW melihat seorang lelaki solat secara sendirian, maka Baginda bersabda: “Tidak adakah seseorang yang boleh bersedeqah (pahala) kepadanya, dan solat bersamanya?”

Sunan Abi Dawud (574)

Terdapat juga hadith daripada Mu’az bin Jabal RA:

كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ

MaksudnyaBeliau bersolat (Isya’) bersama Nabi SAW, kemudian pulang dan mengimamkan kaum beliau untuk solat Isya’.

Sahih al-Bukhari (700).


Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana mendirikan shalat jama’ah kedua setelah dilakukan jama’ah di dalam satu masjid.

Ulama fikih berbeda pendapat tentang hukum shalat jama’ah kedua. Sebelum aku menunjukkan perbedaan-perbedaan (pendapat) di antara mereka dan menjelaskan mana yang rajih (unggul) dan marjuh (lemah), aku perlu membatasi (pengertian) jama’ah (kedua) yang diperselisihkan itu.


Pendapat Yang Diperselisihkan


Permasalahan yang diperselisihkan adalah (shalat) jama’ah yang didirikan disatu masjid yang sebelumnya sudah didirikan oleh imam dan muadzdzin tetap (masjid tersebut).

Adapun jama’ah-jama’ah yang didirikan di tempat lain, seperti di rumah, di masjid jalanan, kompleks pertokoan tidak termasuk yang dipermasalahkan.

Ulama-ulama mengambil pendapat, bahwa mendirikan jama’ah untuk kedua kalinya dalam satu masjid yang ada imam dan mu’adzdzin rawatibnya hukumnya makruh, berdasar pengambilan dari dua sisi dalil.

1. Dalil naqli (dari syara’)
2. Dalil nazhari meliputi periwayatan dan hikmah disyari’atkannya shalat berjama’ah.

Adapun berdasar dalil naqli : Setelah para ulama ahli hadits meneliti kehidupan Rasul Allah, mereka menemukan bahwa Rasul Allah sepanjang hidupnya senantiasa shalat berjama’ah bersama para sahabatnya di masjid beliau. Bila di antara para sahabatnya ada yang ketinggalan, tidak bisa shalat berjama’ah bersama rasul Allah di masjid, mereka shalat sendiri dan tidak menunggu siapa pun. Tidak menengok kanan-kiri, seperti dilakukan orang sekarang, meminta satu atau banyak orang untuk bersama shalat jama’ah dan salah seorang dari mereka dijadikan imam.

Demikian itu tidak pula diperbuat oleh orang-orang salaf (terdahulu). Bila mereka masuk masjid, ternyata sudah selesai didirikan shalat jama’ah, mereka shalat sendiri-sendiri. Begitulah yang dijelaskan oleh Iman Syafi’i dalam kitabnya Al-Um. Ungkapan Imam Syafi’i berkaitan dengan masalah ini lebih banyak dibanding ungkapan imam-imam lain.


Maka dari paparan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa mengulangi sholat fardhu untuk memperoleh pahala berjemaah, atau untuk membantu orang lain mendapatkan pahala jemaah, hukumnya adalah sunat. Hal ini berdasarkan hadith-hadith Nabi SAW serta amalan para sahabat sendiri, selain pandangan para fuqaha’ yang berpegang pada pandangan ini.

Adapun jika mengulanginya tanpa sebarang sebab dan keperluan, maka hukumnya adalah makruh.

Wallahu 'Alam.



Posting Komentar untuk "HUKUM MENGULANG SHALAT BERJAMAAH"

close