IQAMAT MERUPAKAN HAK IMAM
Memberikan Hak Kepada Yang Berhak
Kesempurnaan Islam sebagai agama samawi harus kita yakini secara kaffah. Islam telah mengatur segala perkara dengan sebaik-baiknya. Termasuk memberikan hak kepada orang yang berhak mendapatkannya. Maka tidak boleh seseorang melanggar hak orang lain yang telah ditetapkan oleh agama Islam.
Di antara hak yang telah diatur oleh Islam adalah bahwa iqâmat di dalam shalat berjama’ah merupakan hak Imam. Jika iqâmat dikumandangkan tanpa izin imam, atau sebelum imam datang, maka akan terjadi kekacauan. Oleh karena itu selain perlu ditetapkan jarak antara adzan dan iqâmat, harus juga diperhatikan bahwa yang berhak memerintahkan iqâmat adalah imam.
Sebagaimana dalil yang diriwayatkan dalam kitab hadits berikut ini;
Sunan Abu Dawud
Kitab : Shalat
Muadzin menunggu imam
Hadits : 452
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
كَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ ثُمَّ يُمْهِلُ فَإِذَا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Syababah dari Isra`il dari Simak dari Jabir bin Samurah dia berkata; Biasanya Bilal setelah mengumandangkan adzan, dia menunggu sejenak, apabila telah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar, maka dia mengumandangkan iqamah shalat.
Banyak dalil yang menunjukkan bahwa iqâmat adalah hak imam, selain yang telah disebutkan di atas berikut dalil lainnya mengenal hal tersebut ;
1. Hadits Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhu.
Beliau berkata:
كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ، حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ.
Kebiasaan muadzin Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu, sehingga ia tidak mengumandangkan iqâmat sampai ia melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumahnya). Ia mengumandangkan iqâmat saat melihat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[HR. At-Tirmidzi, no. 202. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani]
Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi rahimahullah mengatakan,
وَهَكَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنَّ الْمُؤَذِّنَ أَمْلَكُ بِالأَذَانِ، وَالإِمَامُ أَمْلَكُ بِالإِقَامَةِ
Demikianlah sebagian ahli ilmu mengatakan: bahwa muadzin lebih berhak terhadap adzan, sedangkan Imam lebih berhak terhadap iqâmat. [Sunan Tirmidzi, 1/275]
2. Hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الصَّلاَةَ فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَقَدَ النِّسَاءُ وَالوِلْدَانُ، فَخَرَجَ وَهُوَ يَمْسَحُ المَاءَ عَنْ شِقِّهِ يَقُولُ: «إِنَّهُ لَلْوَقْتُ لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي»
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan atau menunada shalat ini (Isya). Umar z datang lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Para wanita dan anak-anak telah tidur.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sambil menyeka air dari badannya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah waktu (Isya’), jika aku tidak memberatkan umatku”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7239]
Tampak dari kejadian ini bahwa para Sahabat menunggu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai Umar Radhyallahu anhu mengabari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk segera shalat Isya’ karena para wanita dan anak-anak telah tidur. Ini menunjukkan bahwa waktu sudah cukup malam.
3. Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.
أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ بِالأُولَى مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بَعْدَ أَنْ يَسْتَبِينَ الْفَجْرُ ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلإِقَامَةِ
Dari ‘Aisyah Radhiyallahua anhuma, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika muadzin telah selesai dari adzan Shubuh, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan Shalat dua raka’at yang ringan sebelum Shalat fajar atau Shubuh setelah fajar (warna merah/putih dari arah timur sebelum terbit matahari) terang. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring pada lambung kiri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai muadzin mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk (mengumandangkan) iqâmat”. [HR. Al-Bukhâri, no: 629]
4. Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
لَمَّا مَرِضَ النَّبِيُّ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَتَاهُ بِلاَلٌ يُوذِنُهُ بِالصَّلاَةِ، فَقَالَ: «مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ»
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berujung wafatnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Bilal mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan tentang shâlat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perintahkan Abu Bakar shâlat (menjadi Imam)”. [HR. Al-Bukhâri, no. 712, 713 dan Muslim, no. 418/95]
Hadits ini menunjukkan bahwa Bilal mendatangi rumah Nabi sebelum melakukan iqâmat, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lama tidak keluar dari rumah karena sakit.
5. Riwayat dari Sahabat Ali Radhiyallahu anhu.
ﺍﻟْﻤُﺆَﺫِّﻥُ ﺃَﻣْﻠَﻚُ ﺑِﺎﻟْﺄَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺃَﻣْﻠَﻚُ ﺑِﺎﻟْﺈِﻗَﺎﻣَﺔِ
Muadzin lebih berhak dalam hal adzan, dan imam lebih berhak dalam hal iqâmat.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, Abu Hafsh al-Kattani, dan al-Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shughra. Hadits ini dihukumi sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdits adh-Dha’îfah pada pembahasan hadits, no. 46691].
Faedah hadits
• Muazin berhak mengumandangkan azan, karena ia adalah orang yang dibebani menjalani tugas.
• Iqamah tidaklah dikumandangkan sampai imam memberi isyarat.
• Ada perselisihan pendapat di antara para ulama mengenai waktu berdirinya makmum untuk shalat berjamaah. Ada perkataan dari Imam Malik rahimahullah, “Adapun berdiri bagi makmum ketika melaksanakan shalat, maka tidaklah pernah kita mendengar ketentukan waktu berdirinya. Bahkan kapan berdiri bisa melihat dari kemampuan manusia. Ada di antara yang hadir adalah yang berbadan berat, dan ada pula yang ringan. Semua jamaah tentu saja berbeda-beda kapan berdirinya, tidak semuanya serempak.” (Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:308)
KESIMPULAN:
Iqâmat adalah hak Imam. Muadzin tidak boleh melakukan iqâmat sebelum izin Imam.
Wallahu 'Alam.


Posting Komentar untuk "IQAMAT MERUPAKAN HAK IMAM"