BERJALAN DI KEGELAPAN MALAM
Sebagai syariat Allah yang agung, perintah shalat langsung dilakukan oleh Seluruh anbiya dan mursalin (Nabi-nabi dan Rasul-Rasul) agar semua ummatnya untuk menegakkan sholat. Hanya saja tentu caranya berbeda-beda. Dan segala puji bagi Allah, kemudian Allah sempurnakan syariat Nabi dan Rasul Allah berupa Syariat Islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?” (QS. Hud: 87)
“maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha: 13-14).
Dua ayat di atas adalah contoh bahwa syariat sholat adalah syariat atau risalah yang dibawa oleh Nabi dan Rasul sebelum Muhammad shallallaahu alaihi wasallam.
Dalam Islam, sholat ada yang dihukumi fardhu ain, yakni dibebankan pada setiap diri yang sudah mampu, ada pula yang fardhu kifayah, yakni kewajiban hilang apabila ada orang yang melaksanakannya. Ada pula yang dihukumi dengan sunnah muakkad dan ghairu muakkad.
Di antara sholat yang fardhu ain adalah sholat Isya dan Shubuh. Kedua sholat ini dilakukan pada saat malam dan menjelang pagi. Saat itu matahari tidak sedang muncul di langit. Suasana gelap dan dingin. Sebagaimana keterangan yang dinukil dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam berikut ini;
Sunan Abu Dawud
Kitab : Shalat
Penjelasan tentang berjalan di kegelapan malam menuju masjid
Hadits : 474
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ الْحَدَّادُ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ أَبُو سُلَيْمَانَ الْكَحَّالُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ بُرَيْدَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma'in telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Al-Haddad telah menceritakan kepada kami Isma'il, Abu Sulaiman Al-Kahhal dari Abdullah bin Aus dari Buraidah dari dar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk shalat berjama'ah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti."
Hadits di atas berkaitan dengan sholat Isya dan Shubuh di Masjid. Pada zaman Nabi shalallahu alaihi wasallam, ada orang-orang yang enggan berjalan ke masjid untuk melakukan sholat Isya dan Subuh berjamaah karena gelap. Mereka ini adalah orang-orang munafik.
Dalam hadits di atas dapat pula diambil setidaknya tiga kata kunci yang menarik perhatian kita: (1) Berjalan, (2) Kegelapan (malam gelap gulita) dan (3) Masjid.
Berjalan
Konsep berjalan sudah dikenal dengan baik. Melangkahkan kaki, menuju ke suatu arah atau tempat tertentu, menggunakan kedua kaki, adalah beberapa hal yang terkait langsung dengan konsep berjalan. Dalam konsep ini juga terkandung makna adanya energi yang dikeluarkan dan serangkaian tindakan yang dikerjakan.
Secara umum konsep tersebut bisa diperluas maknanya menjadi Usaha, Gerakan, Dinamika yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Hal mana membuat kita bisa memahami pesan tersirat di dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah mengisyaratkan perlu adanya Usaha, Gerakan atau dinamika dalam diri seseorang atau sekelompok orang.
Mari kita coba perhatikan beberapa ayat Allah SWT berikut ini:
11. …Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan mereka… [Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka]. (QS Ar Ra’d (13) ayat 11)
105. dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At Taubah (9) ayat 105)
Dalam ayat-ayat tersebut terlihat jelas bahwa Allah SWT memerintahkan adanya Usaha, Gerakan atau Dinamika dalam kehidupan manusia agar bisa dicapai pembaharuan atau suatu prestasi tertentu.
Dengan demikian, gerak, dinamika atau usaha memang sudah menjadi salah satu karakteristik dalam hidup dan kehidupan manusia.
Kegelapan
Kata kunci kedua adalah Kegelapan. Dalam hadits tadi disebutkan keadaan malam yang gelap gulita. Jika diingat bahwa hadits ini dikeluarkan 15 abad yang lalu, kita bisa coba bayangkan keadaan malam yang gelap gulita tersebut, yaitu keadaan malam tanpa cahaya bulan dan bintang, apalagi cahaya lampu seperti yang kita kenal sekarang ini.
Kegelapan itu menimbulkan ketidakpastian. Jika akan melangkah ke luar dari rumah, akan ada ketakutan karena timbulnya kekhawatiran akan tersesat jalan. Belum lagi adanya ketakutan akan hewan-hewan buas yang berkeliaran mencari mangsa di dalam kegelapan malam. Dan dalam keadaan kegelapan semacam itulah diisyaratkan perintah agar seseorang berjalan keluar dari rumahnya.
Sungguh hal itu bukanlah hal yang mudah. Sangat berat dilakukan. Memerlukan ketabahan dan keberanian yang besar untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah yang aman dan nyaman. Dan tidak semua orang bisa melakukannya.
Jika kita berkaca pada kenyataan saat ini, dimana kondisi kegelapan malam yang menyelimuti lingkungan sudah jarang ditemui. Apalagi di kota-kota besar. Maka penggambaran kegelapan itu sepertinya lebih relevan bila diperluas kepada kegelapan di dalam hati sanubari masing-masing pribadi. Hal ini bisa dijelaskan dengan memperhatikan dua hal: (1) Secara fisik lingkungan, kegelapan malam sudah tidak lagi menjadi hambatanbesar, karena selain ada penerangan (lampu/ penerangan jalanan dan sebagainya) juga bisa digunakan senter. Bahkan banyak gadget sekarang pun bisa diatur untuk mengeluarkan cahaya yang cukup terang. (2) Meskipun demikian, masih terhitung sedikit orang yang berjalan di malam hari untuk melaksanakan sholat di masjid, terutama sholat ‘Isya dan sholat Shubuh.
Oleh karenanya, cukup berdasar bila dikatakan bahwa pada masa sekarang ini, bukan sekedar kegelapan malam yang membuat orang enggan keluar rumahnya untuk melaksanakan sholat Isya dan Shubuh berjamaah di masjid-masjid, melainkan lebih karena adanya kegelapan di dalam hati sanubari masing-masing yang menyebabkan hilangnya semangat dan keberanian mereka untuk berangkat ke masjid.
Hal ini ternyata sudah ditengarai sejak dahulu. Perhatikan hadits Nabi SAW berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak. (HR Bukhari)
Jadi seperti fenomena yang digambarkan di atas, bahwa meski keadaan malam hari sekarang ini tidaklah dalam keadaan gelap gulita seperti zaman Nabi SAW dahulu, namun terhitung masih sedikit orang yang melaksanakan sholat Shubuh dan ‘Isya berjamaah di Masjid. Tak pelak lagi bahwa ini mengindikasikan adanya “kegelapan” di dalam hati masing-masing individu dan dikhawatirkan ini merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kemunafikan. Na’udzubillah.
Masjid
Sebagai sebuah konsep, Masjid bukanlah semata bangunan yang dipergunakan untuk mendirikan sholat saja. Masjid, menurut apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, adalah lebih dari itu, karena di masa beliau SAW, masjid telah menjadi pusat ibadah, pusat pendidikan dan pengajaran bahkan pusat perancangan strategi. Ringkasnya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pada zaman Nabi SAW, masjid telah menjadi pusat bagi tumbuhnya peradaban Islam.
Berkaitan dengan hadits tentang berjalan di malam gelap untuk menuju masjid, dapat diambil pelajaran tentang apa yang akan diperoleh di masjid. Bila dibuat garis besarnya maka ada dua hal utama:
Pertama adalah perkara ibadah kepada Allah SWT. Sisi ini menekankan perlunya mengikatkan diri pada prinsip-prinsip tauhid yang menjadi inti ajaran Islam. Mengedepankan keridhoan Allah SWT di atas keridhoan yang lain dalam tiap gerak langkah manusia. Dan ini merupakan prinsip utama yang tidak boleh dilanggar, karena dengannya akan lahir individu-individu perkasa yang memiliki kekuatan pribadi yang mengagumkan.
Kedua adalah perkara hubungan antar manusia yang mewujud dalam bentuk sholat berjamaah. Implikasinya dapat meluas ke berbagai bidang sehingga ada berbagai istilah seperti silaturahim, ukhuwah sampai muamalah. Prinsip berjamaah ini melahirkan kekuatan ummat dan merupakan salah satu kunci keberhasilan kaum muslimin di masa terbaiknya dalam menguasai dunia. Suatu hal yang kini terabaikan sehingga terjadi kenyataan pahit dimana kaum muslimin di berbagai tempat di dunia sekarang ini dalam keadaan tertindas.
Dengan menjabarkan dan memperluas pembahasan hadits tentang berjalan di kegelapan menuju masjid ini, kita sampai pada kesimpulan besar, bahwa jika kita menginginkan Sinar Terang sempurna menyinari kita, hendaknya kita terus berusaha, bergerak mengalahkan kegelapan khususnya di dalam diri kita untuk dapat membina pribadi unggul yang kuat dalam bertauhid dan lekat dalam berjamaah.
Wallahu 'Alam.


Posting Komentar untuk "BERJALAN DI KEGELAPAN MALAM"