Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MALU BAGIAN DARI IMAN



Menjaga Rasa Malu


Betapa pentingnya menjaga rasa malu. Tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak ada rasa malu dalam dirinya. Rasa malu merawat kita dari tindakan berdosa walaupun mungkin tidak ada manusia yang tahu apa yang sedang dilakukan. Rasa malu melindungi kita dari perbuatan tak pantas, karena hati nurani dapat menilai mana yang pantas dan kurang tepat.

Malu berkaitan erat dengan iman. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, tak bisa dipisahkan. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat hadits berikut ini;

Hadits:Shahih Bukhari, No.8
Kitab:Iman

Tentang Perkara-perkara Iman


Arabia :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Terjemah :

"Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman".

Rasa malu memiliki keutamaan yang sangat agung dalam syariat Islam. Jika manusia tidak memiliki lagi rasa malu atau kurang rasa malunya, maka berbagai kerusakan akan terjadi di muka bumi ini. “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu,” (HR. Bukhari).

Apabila kita perhatikan, salah satu penyebab rusaknya tatanan sosial antara lain karena hilangnya rasa malu. Maraknya korupsi, praktik kebohongan yang diproduksi selama ini seperti mengaku jadi raja dan ratu, memberikan bukti bahwa rasa malu dan bersalah itu sudah menipis atau mungkin hilang. Orang tua menghamili anaknya, anak membunuh orang tuanya, prostitusi online, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan kejahatan lainnya merupakan contoh dari hilangnya rasa malu.

Rasa malu adalah tameng, sekaligus benteng dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Seseorang yang senantiasa memelihara dan menjaga rasa malu akan berhati-hati, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Selalu mempertimbangkan baik buruknya sesuatu dan berpikir sebelum bertindak. Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Sifat malu seluruhnya merupakan kebaikan.” (HR. Muslim)

Orang yang memiliki rasa malu berarti berusaha untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri (iffah). Memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya. Bagi Mukmin sejati, ia akan merasa malu kalau ucapannya tidak sesuai dengan kenyataan, penuh dusta dan kebohongan. Malu melanggar aturan, malu jika perbuatannya merugikan orang lain, atau mendatangkan keburukan bagi dirinya.

Sangat penting bagi kita untuk memupuk dan menghiasi diri dengan rasa malu. Berusaha sekuat tenaga menghindari perbuatan tercela, dan berupaya menebar kebaikan. Kesadaran seorang Muslim yang didorong oleh iman, islam dan ihsannya menjadi kekuatan.

Ibnu Rajab membagi malu menjadi dua macam. Pertama, malu yang menjadi karakter dan tabiat bawaan, dia tidak diusahakan melainkan Allah anugerahkan kepada seorang hamba-Nya. Tentu saja hal tersebut ekslusif miliknya para nabi dan rasul serta wali Allah Swt.

Kedua, malu yang diperoleh dari mengenal Allah dan mengenal keagungan-Nya, serta keyakinannya tentang Maha Tahu-nya Allah Swt. Malu jenis ini merupakan bagian dari buahnya iman yang dimiliki oleh seorang hamba, bahkan termasuk derajat ihsan yang paling tinggi. Menyadari bahwa Allah Swt selalu melihat dan mengawasi apa yang dilakukan baik dalam gelap maupun terang, lapang ataupun sempit. Maka berbahagialah mereka yang rasa malunya terjaga, imannya mengendalikan seluruh nadi kehidupan, islam dan ihsannya menjadi perhiasan semua amal perbuatan.

Senada dengan hal tersebut, bahwa malu sangat erat kaitannya dengan iman. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, ia berkata:

, اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ

Artinya: "Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna." (HR. Al Hakim).

Maka rasa malu bisa tercipta, pertama, atas dasar pemahaman diri sendiri tentang perasaan bersalah. Kedua, berdasarkan keyakinan suatu masyarakat dalam lokal budaya tertentu. Ini biasanya disebut dengan “kearifan lokal”. Ketiga, lahir dari pemahaman atas doktrin ketuhanan.

Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah adanya rasa malu. Bila rasa malu hilang, manusia cenderung berbuat seperti binatang bahkan bisa lebih parah lagi. Allah berfirman: (QS. Al-A’raf (7) : 179).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

wa laqad żara`nā lijahannama kaṡīram minal-jinni wal-insi lahum qulụbul lā yafqahụna bihā wa lahum a'yunul lā yubṣirụna bihā wa lahum āżānul lā yasma'ụna bihā, ulā`ika kal-an'āmi bal hum aḍall, ulā`ika humul-gāfilụn

Artinya:
Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (QS. Al A'raf  : 179)


Buah dari Rasa Malu


Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa‘ (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup.

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.”
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "MALU BAGIAN DARI IMAN"

close