MEMBERI MAKAN BAGIAN DARI ISLAM
Berbagi Makanan Dengan Kerabat
Rasulullah SAW selalu mengajarkan untuk berbagi makanan dengan kerabat atau tetangga. Orang-orang yang sering berbagi makanan bahkan disebut terjamin masuk surga.
Makan merupakan kebutuhan setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Setiap makanan yang masuk ke tubuh akan menjadi energi yang membuat organ tubuh bisa berfungsi optimal.
Namun ada kalanya, beberapa kondisi membuat orang kesulitan mendapatkan makanan, misalnya keadaan ekonomi. Kondisi inilah yang membuat orang yang berkecukupan diwajibkan untuk berbagi makanan.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
Hadits:Shahih Bukhari, No.11
Arabia :
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Terjemah :
"Islam manakah yang paling baik?" Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: "Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal".
Maksud penanya dengan pertanyaannya: “Islam manakah yang paling baik?”, yakni cabang keIslaman yang paling dicintai dan paling utama di sisi Allah? Itu merupakan pertanyaan mengenai amalan – amalan yang paling utama dalam Islam.
Dalam hadits ini terdapat penjelasan mengenai keutamaan – keutamaan praktek – praktek keIslaman. Maksud dari pertanyaan penanya adalah: Wahai Rasulullah, apakah amal – amal kebaikan yang paling utama di sisi Allah ta’ala? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan dan menyebarkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”.
Hal ini karena menyebarkan salam itu merupakan keIslaman sebagaimana firman Allah ta’ala:
فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِكُمۡ تَحِیَّةࣰ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَـٰرَكَةࣰ طَیِّبَةࣰ
Hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. QS. An-Nur: 61.
Yakni agar sebagian dari kamu memberi salam kepada sebagian lainnya.
Jika dikatakan: Sesungguhnya pertanyaan “Islam manakah yang paling utama?” dengan “Islam manakah yang paling baik?” itu dekat maknanya (yakni antara hadits ke 11 dan ke 12 pertanyaannya mirip). Namun jawaban dari kedua pertanyaan itu berbeda, bagaimana bisa demikian?
Jawabannya: Bahwasanya berbedanya jawaban itu timbul karena berbedanya kondisi para penanya, sesuai waktu dan kemaslahatan.
Pada pertanyaan pertama (yakni pada hadits ke 11): Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan dari menyakiti orang yang beriman dan orang yang membawa hal yang menyakitkan, beliau bersabda: “(Islam yang paling utama adalah) Siapa yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya”.
Pada pertanyaan kedua (yakni pada hadits ini): Berisi anjuran untuk memberi makan karena adanya kebutuhan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan harta – harta mereka dan rumah – rumah mereka, agar mereka ditolong dan diberi makan. Ini terjadi saat mereka baru masuk ke Kota Madinah Munawwarah.
Membagi makanan dengan tetangga tidak harus ketika memiliki banyak makanan. Dalam jumlah sedikitpun tidak masalah. Akan berdosa seorang muslim jika merasa perutnya kenyang sementara tetangganya kelaparan.
Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu." (HR Muslim)
Anjuran Saling Memberi Makanan
Anjuran saling memberi makanan kepada tetangga tak hanya memiliki makna untuk memberi saja. Lebih dari itu, Rasulullah menyuruh umatnya untuk terus dan saling memperhatikan kondisi tetangganya.
Dalam hal ini bukan berarti untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga tetangga, melainkan untuk memastikan bahwa tetangga terdekat kita memiliki cukup makanan untuk dikonsumsi. Tidak harus makanan utama, bisa juga berupa makanan selingan seperti camilan atau buah.
Dalam sebuah hadits disebutkan, orang yang memberi makanan kepada mereka yang kelaparan termasuk ke dalam golongan orang yang paling mulia.
"Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah orang yang memberi makan." (HR. Thabrani).
Saking mulianya orang yang berbagi makanan, Allah SWT bahkan menjamin, di akhirat kelak Allah SWT akan menyiapkan ruangan khusus di dalam surga.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat sejumlah kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Lalu seorang Arab Badui berdiri lalu bertanya, "Ya Rasulullah untuk siapa kamar-kamar itu?" Nabi SAW menjawab, "...untuk orang yang memberi makan ..." (HR. Tirmidzi).
Tak hanya itu, Allah SWT juga akan memberikan pintu khusus yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang selama hidupnya di dunia gemar memberi makan orang lain yang kelaparan.
"Barangsiapa yang memberi makan kepada seorang mukmin hingga membuatnya kenyang dari rasa lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain." (HR. Thabrani).
Syaikh Nawawi Banten menceritakan ulang di dalam karyanya Nashaihul Ibad tentang rahasia Nabi Ibrahim hingga menjadi khalilulllah (kekasih Allah). Nabi Ibrahim mengaku tidak makan sore dan makan pagi kecuali bersama tamu. Bahkan Nabi Ibrahim menempuh perjalanan sejauh 1 mil atau 2 mil sekadar mencari orang untuk menemaninya makan.
Memberi makan tidak harus menunggu menjadi kaya dan berlebihan makanan. Sebab memberi makan dalam keadaan sempit pahalanya sangat besar di hadapan Allah SWT. Bahkan dapat melindungi pelakunya dari siksa neraka. Nabi SAW bersabda, “Api neraka merasa takut walaupun dengan sebiji kurma (yang kalian berikan untuk orang yang lapar).” (HR. Bukhari)
Di dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang memberi makan akan dapat menempuh jalan mendaki dan sukar (aqabah). Allah SWT bertanya, “Dan tahukah kamu apakah kiranya jalan yang mendaki dan sukar itu?” (QS. al-Balad/90: 12). Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Allah SWT, “…Memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. al-Balad/90: 14).
Di dalam Alquran juga disebutkan bahwa orang yang tidak mau memberi makan adalah sebagai pendusta agama. Allah SWT bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang mendustakan agama?” (QS. al-Ma’un/107: 1) Menurut Allah SWT dialah, “(Orang yang) tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. al-Ma’un/107: 3).
Filosofi kesediaan memberi makan dapat dipahami dari hadits Qudsi berikut ini, “Pada hari ini Aku menahan karunia-Ku darimu sebagaimana kamu telah menahan kelebihan sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan hasil usahamu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sejatinya manusia diberi makan oleh Allah SWT. Manusia tidak bisa menciptakan makanannya sendiri.
Wallahu 'Alam.


Posting Komentar untuk "MEMBERI MAKAN BAGIAN DARI ISLAM"