Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENCINTAI RASULULLAH BAGIAN DARI IMAN



Mendedikasikan Hidup Untuk Menegakkan Agama


Sepanjang sejarah kehidupannya, Rasulullah Muhammad SAW mendedikasikan hidup dan kehidupannya untuk menegakkan agama Allah dan mendidik umat Islam. Bahkan, kepedulian dan kecintaan beliau terhadap umatnya ditunjukkan dengan sangat luar biasa hingga akhir hayatnya. Pun ketika umatnya menyakiti dan mengusirnya.

Allah mengabadikan sifat beliau dalam firman-Nya. "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS. 9: 128).

Karena itu, wajib bagi setiap umat Islam untuk mencintai Rasulullah sebagaimana cinta beliau kepada kita.

Mencintai Rasulullah, pada hakikatnya, merupakan cinta kepada Allah. Allah berfirman, yang artinya, "Katakanlah, 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. 3: 31).

Dalam suatu hadis, bahwasanya Rasulullah bersabda,

Hadits:Shahih Bukhari, No.13


Arabia :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Terjemah :

"Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya".


Dalam riwayat ini dijelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada yang lainnya merupakan salah satu bentuk manisnya iman.

Dalam kaitan hadis di atas Allah menegaskan: ''Katakanlah, 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.'' (QS. 9: 24).

Ayat ini cukup menjadi bukti keharusan untuk mencintai Rasulullah saw. Bahkan ayat tersebut juga menunjukkan begitu besar hak Rasulullah saw untuk dicintai, sebab dalam ayat tersebut Allah Swt memberikan ancaman bagi orang-orang yang lebih mencintai harta, keluarga, dan anak-anak daripada mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya. Bahkan di akhir ayat Allah Swt menggolongkan orang-orang yang melakukan hal tersebut sebagai orang yang sesat dan tidak mendapatkan hidayah dari Allah Swt.

Kualitas iman kita sangat ditentukan dengan kecintaan kita kepada Rasul saw. Orang yang memiliki iman yang sempurna selalu memposisikan cintanya kepada Rasul saw dengan posisi urutan pertama dibandingkan cintanya kepada manusia lain. Cintanya kepada Rasul saw melebihi cintanya kepada orang tua, istri, suami dan anaknya, bahkan dirinya sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga aku lebih dicintai dari dirinya sendiri”. (HR. Ahmad)


Itu sebabnya Rasululah pernah menegur Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu ketika ia menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah Saw, dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, maka Rasulullah menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada Rasul saw di atas segala-galanya. Maka Umarpun mencintai Rasul saw melebihi dirinya (HR. Al-Bukhari).

Makna Mencintai Nabi saw

Mencintai Rasulullah berarti mencintai Allah Swt. Allah Swt menegaskan bahwa syarat mutlak untuk mendapatkan cinta-Nya adalah mengikuti Rasul saw. Maksudnya, apa yang dikerjakan oleh Rasul Saw dalam persoalan agama maka kita kerjakan, sedangkan apa yang tidak dikerjakan atau dilarang oleh Rasul saw maka kita tinggalkan.

Dengan kata lain, mengikuti Rasul saw adalah syarat mutlak untuk mendapatkan cinta-Nya sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu” (Ali Imran: 31). Inilah hakikat dan makna mencintai Rasul saw.

Dalam kitab “Syarh Riyadhus Shalihin”, Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata, “Ayat ini disebut oleh sebagian ulama dengan ayat ujian, karena Allah menguji suatu kaum yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah seraya berkata, “Kami mencintai Allah.” Ini adalah pengakuan yang mudah tetapi pengakuan ini mengandung konsekuensi. Allah Swt berfirman: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah Aku.” Atau, barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan tidak mengikuti Rasulullah Saw, maka pengakuannya itu tidak benar, tetapi dia pembohong karena di antara tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasul-Nya.”

Selain itu, masih banyak ayat lain yang memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah saw (lihat An-Nisa’: 59, 65, dan 80, Ali Imran: 31, Al-A’raf: 158, al-Ahzab: 21, Al-Hasyr: 7, Al-Ahzab: 36, An-Nur: 36, Syura: 52, An-Najm: 3-4, dan lainnya).

Allah Swt memuji akhlak Rasul saw dan menjadikannya sebagai sosok teladan dan idola yang wajib diikuti. Allah Swt berfirman, “Sesunggguhnya engkau benar-benar berakhlak yang agung” (Al-Qalam: 4). Dan Allah Swt berfirman, “Sesunggguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21). Mengenai ayat ini, Muhammad bin Ali at-Tirmizi berkata, “Yang dimaksud dengan meneladani Rasul saw adalah mengikuti jejak beliau, mengamalkan Sunnahnya, serta meninggalkan larangannya, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan.”

Begitu pula banyak hadits yang menjelaskan tentang kewajiban dan makna mencintai Rasul Saw. Di antaranya, Rasulullah saw bersabda, “Al-Quran itu terasa sulit bagi orang yang membencinya, padahal Al-Quran merupakan alat untuk menetapkan suatu hukum. Barangsiapa yang berpegang kepada Haditsku, memahami dan menghafalnya, maka dia kelak akan datang bersama Al-Quran. Barangsiapa yang meremehkan Al-Quran dan Haditsku, maka dia akan merugi di dunia dan di akhirat. Ummatku telah diperintahkan untuk mendengarkan sabdaku, mentaati perintahku dan mengikuti Sunnahku. Maka barangsiapa ridha terhadap sabdaku, berarti telah ridha kepada Al-Quran.”

Rasulullah saw juga bersabda, “Sesungguhnya bani Israil tercerai berai menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya ummatku akan bercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga golongan. Kesemuanya akan berada di dalam neraka, kecuali hanya satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Mereka itu adalah orang yang memegang ajaranku dan ajaran para sahabatku seperti sekarang ini.”(HR. At-Tirmizi).

Dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadits diatas dapatlah disimpulkan bahwa makna cinta kepada Rasul saw adalah mentaati perintah dan larangan Rasulullah saw, mengikuti petunjuk beliau, mengamalkan dan menghidupkan Sunnah beliau merupakan bagian dari iman.
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "MENCINTAI RASULULLAH BAGIAN DARI IMAN"

close