MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN MENGGERAKKAN LIDAH
Menghafal Alquran Dengan Baik
Belajar agar bisa membaca dan menghafal Alquran dengan baik dan benar membutuhkan kesabaran. Memperhatikan guru yang mengajari dengan seksama tentang cara membaca setiap bunyi huruf pada Alquran dan tidak tergesa-gesa karena ingin cepat bisa membaca dan menghafal menjadi kunci keberhasilan.
Setidaknya inilah hikmah yang bisa diambil umat Islam dari hadits Nabi Muhammad SAW yang menceritakan bagaimana Rasulullah dibimbing oleh Allah SWT untuk tidak tergesa-gesa mempelajari wahyu yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Hadits Nabi Muhammad bisa ditemukan dalam Sahih Bukhari nomor 4 dan sekaligus menjadi penjelas sebab turunnya ayat pada Surah Al Qiyamah terutama ayat 16-18.
Hadits:Shahih Bukhari, No.4
Kitab:Permulaan wahyu
Bab:Permulaan wahyu
Arabia :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ } قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ } قَالَ جَمْعُهُ لَكَ فِي صَدْرِكَ وَتَقْرَأَهُ { فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ } قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ { ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ } ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَرَأَهُ
Terjemah :
" Berkata Ibnu Abbas: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat kuat keinginannya untuk menghafalkan apa yang diturunkan (Al Quran) dan menggerak-gerakkan kedua bibir Beliau.
" Berkata Ibnu Abbas: "aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukannya kepadaku".
Berkata Said: "Dan aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana aku melihat Ibnu Abbas melakukannya.
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menggerakkan kedua bibirnya, Kemudian turunlah firman Allah Taala: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya".
Maksudnya Allah mengumpulkannya di dalam dadamu (untuk dihafalkan) dan kemudian kamu membacanya: "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu".
Maksudnya: "Dengarkanlah dan diamlah".
Kemudian Allah Taala berfirman: "Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Maksudnya: "Dan Kewajiban Kamilah untuk membacakannya" Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak saat itu bila Jibril Alaihis Salam datang kepadanya, Beliau mendengarkannya.
Dan bila Jibril Alaihis Salam sudah pergi, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membacakannya (kepada para sahabat) sebagaimana Jibril Alaihis Salam membacakannya kepada Beliau shallallahu alaihi wasallam.
Pada hadits di Sahih Bukhari nomor 4 maksud tentang ayat 17 Surah Al Qiyamah yakni "Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaan itu," maksudnya agar Rasulullah diam dan mendengarkan setiap wahyu yang diturunkan. Sejak itu, bila datang Malaikat Jibril kepada Rasulullah, Rasulullah mendengarkan wahyu yang dibawanya dengan seksama, dan bila Jibril telah pergi, Rasulluah baru membacakannya sebagaimana Jibril membacakannya pada Rasulullah.
QS. Al-Qiyamah Ayat 16
لَا تُحَرِّكۡ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهٖؕ
Laa tuharrik bihii lisaa naka lita'jala bih
Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
Dalam ayat ini, Allah melarang Nabi Muhammad menggerakkan lidahnya untuk membaca Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Dalam bahasa lain, Allah melarang Nabi saw menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya untuk cepat-cepat menangkap bacaan Jibril karena takut bacaan itu luput dari ingatannya."
Hal ini terjadi ketika Surah thaha turun, dan semenjak ada teguran Allah dalam ayat ke 16 ini, tentu beliau sudah tenang dalam menerima wahyu, dan tidak perlu cepat-cepat menangkapnya. Pada ayat lain terdapat maksud yang sama, yakni:
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (thaha/20: 114)
Allah melarang Nabi saw meniru bacaan Jibril kalimat demi kalimat sebelum selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad dapat menghafal dan memahami dengan baik ayat yang diturunkan itu.
Bolehkah membaca Alquran hanya dalam hati saja tanpa ada gerakkan bibir dan lidah?
Membaca Alquran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Namun bagaimana jika membaca Alquran hanya dalam hati saja tanpa ada gerakkan bibir dan lidah, apakah Allah tetap menghitung pahala jika kita membaca Al qur'an atau dzikir atau hal duniawi atau agama lainnya tanpa membuka mulut kita dan hanya menggunakan lidah kita.
Ketika kita melibatkan setiap anggota tubuh kita (lidah, bibir, mulut, hati, dan pikiran) dalam membaca Al qur'an, itu berarti kita sedang berusaha untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena masing-masing anggota tubuh ini terlibat dalam perbuatan yang paling mulia.
Selain itu tidak apa-apa jika membaca Alquran dengan cara bergantian, melafalkan dengan keras sedemikian rupa sehingga kita dapat mendengarnya sendiri, sementara melakukannya dengan diam dalam pikiran di waktu lain seperti ketika di tengah kerumunan.
Meski begitu, Nabi Muhammad SAW melarang umatnya untuk membaca Alquran dengan cara membatin. Dijelaskan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Bukan termasuk bagian kami, orang yang tidak yataghanna terhadap Alquran.” (HR. Bukhari)
Makna hadits tersebut menurut Imam Nawawi, Imam Syafi’i, dan banyak ulama dari berbagai bidang ilmu, bahwa 'yataghanna' artinya memperbagus suara ketika membaca Alquran. Para ulama tersebut juga menambahkan bahwa tidak boleh membaca Alquran di dalam hati, tanpa ada gerakan bibir.
Pendapat yang sama juga disampaikan oleh ulama Imam Ibnu Baz. Beliau menjelaskan dalam fatwanya membaca bacaan Alquran harus dengan menggerakkan lisan. Jika seorang Muslim mengucapkannya dalam hati ketika shalat, maka hal itu tidak sah.
Mengutip dari buku Panduan Lengkap Ibadah Menurut Al-Quran, Al-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama oleh Muhammad Al-Baqir, demikian pula dengan seluruh bacaan shalat, tidak sah jika diucapkan dalam hati. Seseorang harus menggerakkan lisannya dan kedua bibirnya, karena “bacaan” adalah perkataan. Sementara perkataan tidak mungkin terwujud kecuali dengan menggerakkan lisan dan kedua bibir.
Jadi, hukum membaca alquran dalam hati menurut para ulama adalah tidak diperbolehkan, terkecuali diikuti dengan menggerakkan bibir.
Wallahu 'Alam.


Posting Komentar untuk "MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN MENGGERAKKAN LIDAH"