RASULULLAH MANUSIA YANG PALING LEMBUT
Rasulullah Contoh Yang Paling Ideal
SEBAGAI umat Nabi Muhammad SAW, sudah seharusnya setiap muslim menjadikannya sebagai teladan. Tidak hanya dalam hal ibadah. Tapi, juga dalam kehidupan sehari-hari. apa yang dilakukan Rasulullah SAW adalah contoh yang paling ideal.
Salah satu teladan yang bisa diambil dari Rasulullah SAW adalah sikap lemah lembut, sebagaimana hadits berikut ini;
Hadits:Shahih Bukhari, No.5
Kitab:Permulaan wahyu
Bab:Permulaan wahyu
Arabia :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Terjemah :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril Alaihis Salam menemuinya, dan adalah Jibril Alaihis Salam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadlan, dimana Jibril Alaihis Salam mengajarkan Al Quran.
Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.
Banyak contoh bagaimana perlakukan kaum kafir kepada Rasulullah SAW. Mulai dilempari kotoran dan batu, diludahi, sampai mau dibunuh.
Peristiwa pengusiran Rasulullah SAW oleh penduduk Thaif salah satu contohnya. Selain ditolak, Khatamul Anbiya ini juga dilempari batu hingga luka parah. Melihat kejadian itu, Malaikat Jibril turun dan menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa Allah SWT memerintahkan malaikat penjaga gunung untuk menaati perintahmu.
Para malaikat penjaga gunung siap membalik dan menimpakan Gunung Akhsyabin kepada penduduk Thaif, jika Rasulullah SAW memerintahkan. Namun, tawaran itu ditolak Rasulullah SAW. Sebaliknya, Rasulullah SAW malah mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan hidayah. Termasuk keturunannya agar kelak menyembah Allah SWT.
Cara dakwah Rasulullah SAW yang penuh kelembutan dan kesabaran akhirnya membuahkan hasil. Islam menyebar ke seluruh dunia. Hal ini sesuai firman Allah SWT adalam QS Al Imron ayat 159 yang artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
Dari ayat tersebut jelas, sekiranya Rasulullah SAW berdakwah dengan cara yang kasar, bisa jadi Islam tidak akan menyebar seperti saat ini. Namun, dengan akhlak yang lembut dan penuh kesabaran, akhirnya Islam bisa menjadi salah satu agama terbesar di muka bumi ini.
Apa yang dilakukan Rasullullah SAW ini bisa menjadi teladan bagi kita. Baik dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah SWT.” (QS Al Ahzab: 21)
Walaupun ayat ini turun ketika di dalam keadaan perang Ahzab, tetapi hukumnya umum meliputi keadaan kapan saja dan dalam hal apa saja. Atas dasar itu, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat ini;
“Ayat yang mulia ini merupakan fondasi atau dalil yang agung dalam meneladani Rasulullah SAW dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam perang Ahzab, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqamah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari pembalasan.”
Karena itu, kita harus lemah lembut kepada siapapun. Berlaku santun dan menghindari sikap keras dan kasar. Bagi orang beriman, bukan tempatnya untuk berlaku keras dan kasar. Karena Allah SWT sangat mencintai kelembutan. Seperti dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Muslim, disebutkan: “Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah SWT itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah SWT memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya.”
Nabi adalah orang yang paling halus kulitnya, yang paling lembut hati dan batinnya. Kemarahan dan kesenangannya dapat diketahui dari raut wajahnya. Apabila telah memuncak kemarahannya, beliau lebih banyak mengusap janggutnya yang mulia. Beliau tidak berbicara kepada seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya.
Seorang laki-laki menemui Rasulullah. Pada diri laki-laki itu terdapat warna kuning yang tidak disukai beliau. Maka beliau tidak berbicara dengan laki-laki itu sehingga ia keluar. Kemudian beliau bersabda kepada sebagian kaum: “Seandainya kalian berkata pada laki-laki itu untuk meninggalkan ini, yaitu warna kuning, niscaya akan lebih bagus.”
Pernah seorang Arab Badui kencing di dalam masjid, kemudian para sahabat bermaksud mencegahnya. Beliau bersabda: “Janganlah kalian memutuskan kencingnya.” Kemudian beliau bersabda kepada orang Badui itu:
“Sesungguhnya masjid ini tidak boleh untuk sesuatu yang kotor, yaitu berak dan kencing,” (Muttafaq’alaih dari Anas).
Dalam riwayat lainnya beliau bersabda, “Ajaklah untuk mendekat, janganlah kalian membuat orang lari.”
Akhlak Yang Lemah Lembut
Ujaran kebencian, caci maki, fitnah bukanlah watak Rasulullah Muhammad SAW. Di dalam dirinya terdapat akhlak yang lemah lembut. Allah mengutus Rasulullah ke dunia ini demi untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Rasulullah secara bertutur kata lembut, termasuk saat sahabatnya dalam kondisi salah sekalipun. Menegurnya pasti selalu santun. Rasulullah selalu menggunakan bahasa yang indah dan gaya bicara yang santun.
Banyak sekali riwayat yang menyebutkan karakter Rasulullah SAW. Salah satunya kepada Aisyah RA, istrinya.
Setiap kali memanggil Aisyah, Rasulullah selalu menggunakan julukan 'Ya Humaira' yang berarti kemerah-merahan. Rasulullah memuji istrinya yang memiliki pipi kemerah-merahan.
Juga seperti kisah dari Anas bin Malik RA yang menjadi asisten Rasulullah.
Selama mendampingi Rasulullah, Anas tidak pernah dibentak maupun dimaki dengan kasar. Meskipun Anas melakukan kesalahan, Rasulullah menegurnya secara santun dan lembut.
Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita perangai yang mulia ini.
Wallahu 'Alam.


Posting Komentar untuk "RASULULLAH MANUSIA YANG PALING LEMBUT"