GILA UANG
Uang merupakan alat vital dalam memenuhi segala kebutuhan manusia. Uang sering dianggap paling berperan apabila seseorang ingin mendapatkan kebahagiaan. Tak jarang segala macam cara akan dilakukan untuk memperoleh uang. Sampai nilai moral diabaikan tidak peduli diraih dengan bekerja halal atau pun haram. Namun uang sebagai lambang kekayaan sering tidak akan mampu bertahan lama atau dicapai dengan baik.
Untuk mendapatkan uang dan mencapai kekayaan tidak perlu memandang gelar pendidikan yang tinggi karena begitu banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat, orang berpendidikan rendah mampu mencapai kekayaan yang berlimpah. Seorang petani yang sehari-hari bekerja di ladang pergi pagi pulang sore, mulai usianya masih muda sampai tua dia hanya bekerja sebagai petani. Dan ada orang yang berpendidikan tinggi punya pekerjaan di perusahaan besar yang memiliki jabatan sebagai CEO, dimana semasa mudanya bergelimang harta, tabungan deposito yang banyak serta rumah mewah.
Dari fenomena ini tentu kita akan menganggap masa depan di hari tua yang seorang pendidikan tinggi ini tentulah lebih meyakinkan dan akan senang dalam menjalani hari-hari tuanya. Dan seorang petani ini tentu akan menjalani hidup tuanya dengan susah. Tapi kenyataannya banyak yang tidak demikian. Siapa menyangka petani ini nantinya akan menjadi terjamin hidupnya dan memiliki kekayaan yang melimpah sedangkan CEO yang awalnya memiliki kekayaan yang melimpah malah dihadapkan pada kesusahan dimasa tuanya.
Mengapa hal ini terjadi siapa menyangka nasib berbalik 180 derajat, tapi nyatanya seorang yang awalnya petani dan memiliki pendidikan rendah ini, selalu bersikap hemat dalam hidupnya dimana uang setiap panen dia sisakan untuk menabung dan investasi, dia rajin membeli saham-saham blue chip dan dalam jangka waktu puluhan tahun dia mendapatkan laba yang berlipat-lipat ganda.
Sementara si CEO ini memiliki kebiasaan yang boros dan foya-foya, sering mengadakan pesta mabuk-mabuk di rumah mewahnya, bersikap arogan yang selalu mengukur dan menyelesaikan urusannya dengan menghambur-hamburkan uang, perilaku ini akan terus menguras uangnya tanpa memikirkan simpanan dan investasinya. Disamping biaya hidup yang glamor ditambah perawatan properti mewah miliknya juga menguras seluruh uangnya.
KONTRIBUSI UANG
Pengelolaan uang tentu tidaklah sama pada setiap orang, hal ini karena pola pikir masing-masing orang pasti berbeda. Pandangan orang yang terlahir kaya tentu berbeda dengan orang yang terlahir miskin. Masyarakat yang memiliki pendapatan rendah sering terjebak dalam mengolah uangnya dan tidak jarang tergiur kedalam hal-hal penggandaan uang yang instan.
Pada era 80 an masyarakat digilakan oleh lotre kupon berhadiah, hal ini membuai masyarakat ekonomi bawah yang sudah miskin malah bertambah miskin, dan gilanya lagi kupon yang seperti ini dilegalkan oleh pemerintah. Kalau zaman sekarang digilakan oleh judi online dimana masyarakat bawah juga yang suka tergiur melakukannya.
Manusia dengan sikap rakus yang tidak mau besusah payah dan berpikiran instan sering tertipu dan bersikap bodoh dalam mengelola keuangannya. Uang yang pas-pasan sering dihamburkan demi mendapatkan imbalan yang tidak pasti yang ujung-ujungnya berakhir dengan penderitaan, dengan lilitan utang yang banyak.
Seharusnya kita bijak dalam mengelola keuangan kita, kalau disimak dari apa yang sudah diutarakan di atas, gila uang belum tentu membawa kita ke masa tua yang nyaman bebas finansial, pendidikan dan jabatan yang tinggi pun belum tentu menjamin seseorang akan bahagia dimasa tuanya. Tapi hanya orang-orang yang selalu selaras dalam mengkontribusikan uangnya, baik dengan menabung maupun berinvestasilah yang akan memetik buah kebahagiaan di hari tuanya.


Posting Komentar untuk "GILA UANG"