Apakah benar Soeharto lebih baik dari Jokowi?
Pertanyaan ini sendiri adalah jebakan. Kita disodori dua menu usang seolah hanya itu pilihan yang tersedia di meja makan republik ini:
Menu pertama, represi otoriter yang telanjang. Menu kedua, ilusi demokrasi yang dikendalikan oligarki.
Kita diminta memilih antara sel penjara yang gelap atau sel yang dicat warna-warni, padahal kuncinya tetap dipegang sipir yang sama.
Saya bukan siapa-siapa. Tapi suara ini milik siapa pun yang muak dengan kebohongan yang dilapisi jargon.
Mari kita bedah sistemnya, bukan figurnya.
Membandingkan Jokowi dan Soeharto adalah kekeliruan logika.
Bukan karena mereka sama persis, tapi karena keduanya beroperasi dalam mesin kekuasaan yang tak pernah benar-benar dibongkar.
“Memilih antara Soeharto dan Jokowi seperti berdebat: lebih baik mati dicekik 32 detik atau diracun pelan-pelan selama 10 tahun.”
Pertanyaannya bukan “mana yang lebih baik?” Tapi: “kenapa kita harus mati?”
Autopsi Sistem: Mesin Lama, Cuma Ganti Operator
1. Mekanisme Kontrol
- Soeharto membungkam dengan laras senjata, razia buku, dan Departemen Penerangan.
- Jokowi membungkam lewat pasal karet, serangan buzzer, dan somasi korporat.
Yang satu brutal dan langsung. Yang lain halus dan membusuk dari dalam.
Tapi hasilnya sama: rakyat dibisukan, nalar kritis dikubur hidup-hidup.
2. Arsitektur Korupsi
- Dulu, korupsi dipusatkan di Cendana.
- Sekarang, korupsi didistribusikan melalui partai koalisi, proyek nasional, dan revisi undang-undang.
Kalau dulu keluarga presiden yang pegang ATM negara, sekarang ATM-nya dikloning dan dibagi ke banyak elite.
Lebih demokratis? Mungkin. Tapi hanya dalam cara mencuri.
3. Kualitas Oposisi
- Soeharto sisakan oposisi semu.
- Jokowi hilangkan oposisi dengan cara lebih elegan: dirangkul, diberi kursi, dibelah dari dalam.
Musuh yang jelas lebih mudah dilawan daripada musuh yang duduk semeja sambil tersenyum.
Mengapa Banyak Orang Merindukan Orde Baru?
Karena mereka dikhianati oleh harapan yang dijual pasca-Reformasi.
Bukan karena Soeharto hebat, tapi karena Jokowi dan para penerus reformasi gagal menjaga cita-citanya.
“Orang tidak rindu dibungkam, mereka muak dengan kebebasan semu yang hanya berlaku bagi yang punya kuasa.”
Kalau hari ini harga-harga melonjak, ruang sipil menyempit, dan lembaga pengawas dilemahkan,
maka wajar jika publik kecewa dan balik bertanya: “Dulu katanya Reformasi akan membawa perubahan?”
Masalahnya Bukan Siapa Presidennya
Masalahnya: kita terus percaya panggung yang memberi mereka panggung.
Cetak biru Orde Baru tidak mati—ia beregenerasi dalam bentuk baru, dengan wajah yang lebih “merakyat”, tapi dengan fungsi yang sama:
Melanggengkan kekuasaan, membungkam kritik, dan menjadikan rakyat sebagai bahan bakar elite.
"Kita tidak hidup dalam demokrasi, kita hidup dalam demokrasi kosmetik: cat baru di tembok penjara yang sama."


Posting Komentar untuk "Apakah benar Soeharto lebih baik dari Jokowi?"