BERWUDHU BAGI ORANG JUNUB
Junub adalah kondisi hadas besar pada diri seorang muslim yang harus disucikan dengan mandi besar.
Islam mewajibkan pemeluknya untuk melaksanakan mandi besar saat junub. Mandi besar merupakan wujud bersuci untuk menghilangkan hadas besar, salah satunya junub.
Tetapi banyak orang sering menunda-nunda mandi besar setelah bersetubuh dengan pasangannya. Di antara mereka menyempatkan untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum melaksanakan mandi besar.
Para ulama pernah mengulas Panjang lebar mengenai hal ini. Salah satu ulama yang juga membahas hukum makan dan minum saat junub adalah Syekh Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitabnya yang berjudul al-Minhaj al-Qawim.
Syekh Ibn Hajar Al-Haitami menyebutkan hukum makan dan minum bagi orang yang sedang junub adalah makruh.
Akan tetapi ia memberikan pengecualian, yaitu apabila ia telah membasuh kemaluannya dan berwudhu terlebih dahulu maka diperbolehkan makan dan minum.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam kitab hadits berikut ini;
Sunan Abu Dawud
Kitab : Thaharah
Orang yang mengatakan "Orang junub berwudlu"
Hadits : 193
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ تَعْنِي وَهُوَ جُنُبٌ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila hendak makan atau tidur, maka beliau berwudhu terlebih dahulu, yakni ketika beliau sedang dalam keadaan junub.
Hadits : 194
حَدَّثَنَا مُوسَى يَعْنِي ابْنَ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَطَاءٌ الْخُرَاسَانِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لِلْجُنُبِ إِذَا أَكَلَ أَوْ شَرِبَ أَوْ نَامَ أَنْ يَتَوَضَّأَ
قَالَ أَبُو دَاوُد بَيْنَ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ وَعَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ رَجُلٌ و قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عُمَرَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو الْجُنُبُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ تَوَضَّأَ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami 'Atha` Al-Khurasani dari Yahya bin Ya'mar dari 'Ammar bin Yasir bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan rukhshah (keringanan) bagi orang yang junub apabila hendak makan, atau, minum atau, tidur, untuk berwudhu terlebih dahulu. Abu Dawud berkata; Di antara Yahya bin Ya'mar dan Ammar bin Yasir pada hadits ini terdapat seorang laki-laki. Dan Ali bin Ai Thalib, Ibnu Umar, dan Abdullah bin Umar mengatakan; Orang yang junub apabila hendak makan, maka dia berwudhu terlebih dahulu.
Aktivitas yang dilarang bagi orang junub sendiri, disampaikan oleh Syekh Al-Qadli Abu Syuja’ dalam Matn al-Taqrib sebagai berikut:
وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ اّلصَّلَاةُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالطَّوَافُ وَالُّلبْثُ فِي الْمَسْجِدِ
“Haram bagi orang jubub lima hal: shalat, membaca Al-Qur’an, memegang dan membawa mushaf, thawaf, serta berdiam diri di masjid.” (al-Qadli Abu Syuja’, Matn al-Taqrib, Semarang, Toha Putera, tanpa tahun, halaman 11).
Larangan yang tidak memiliki wudhu
Seseorang yang tidak berwudhu diharamkan untuk melakukan empat hal berikut ini:
1. Salat
Segala perkara ibadah yang disebut salat tidak boleh dilakukan jika tidak memiliki wudhu, termasuk sujud tilawah dan salat jenazah. Rasulullah SAW bersabda;
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats sehingga ia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih).
2. Thawaf
Thawaf merupakan perkara yang sama dengan salat, maka saat thawaf seseorang diharuskan memiliki wudhu dan suci. Nabi SAW bersabda, “Thawaf di Baitullah itu sama dengan shalat hanya saja Allah membolehkan dalam thawaf berbicara” (HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ad-Dar quthni)
3. Menyentuh Al-Quran
Diharamkan bagi seseorang yang tidak berwudhu untuk menyentuh dan membaca Al-Quran. Allah SWT berfirman,
لَّا يَمَسُّهٗۤ اِلَّا الۡمُطَهَّرُوۡنَؕ
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (Al-Waqi’ah:79)
4. Membawa Al-Quran
Seorang Muslim tidak diperboleh membawa atau menyentuh Al-quran tanpa wudhu. Namun, jika barang atau tafsir/terjemahan yang kalimatnya lebih banyak dari isi Al-Qur’an. Lalu jika seseorang itu ragu akan wudhunya maka rasulullah menyarankan dalam haditsnya, dari Abu Hurairah RA berkata, telah bersabda Rasulullah SAW,“Apabila seseorang dari kalian merasa sesuatu di dalam perutnya, yaitu ragu-ragu apakah keluar darinya sesuatu atau tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid (untuk berwudhu) hingga ia dengar suara atau ia merasakan angin (bau).” (HR Muslim).
Larangan bagi orang berjunub
Seorang muslim yang berjunub diharamkan atas enam perkara, empatnya diantara sama dengan perkara yang tidak boleh dilakukan saat tidak memiliki wudhu;
1. Membaca Al-Quran
Saat berjunub seseorang tidak boleh melaksanakan salat, thawaf, menyentuh dan membawa Al-quran, perkara selanjutnya membaca Al-Quran. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda,
لاَ تَقْرَأِ الحَائِضُ وَلاَ الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآن
“Wanita haid, dan junub tidak boleh membaca sedikitpun dari Al-Qur’an.” (HR. At-Tirmidzi)
2. Duduk di dalam masjid
Jika sedang berjunub diharamkan untuk berdiam diri atau duduk di dalam masjid, seperti menghadiri majelis, berkumpul, dan lainnya. Allah SWT berfirman,
وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا
“(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (Q.S. An-Nisa: 43).
Dan Rasulullah ﷺ pun bersabda;
لا أجل المسجد لحائض، ولا لجنب
“Tidak ada masjid bagi wanita haid dan orang junub.” (HR. Abu Daud)
Hanya saja, bila melihat dari pertimbangan keutamaan, dianjurkan bagi orang junub untuk mandi janabah terlebih dahulu sebelum ia makan. Sebab, bagaimana pun juga kondisi janabah adalah kondisi yang kurang baik.
Dan apabila terpaksa tidak sempat mandi janabah, misalkan karena waktu mepet, maka sebaiknya terlebih dahulu membasuh kemaluan dan berwudhu sebelum makan. Sebab, melakukan aktivitas makan dan minum bagi orang junub adalah makruh sebelum ia berwudhu dan membasuh kemaluannya.
Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:
(وَيُكْرَهُ لِلْجُنُبِ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَالنَّوْمُ وَالْجِمَاعُ قَبْلَ غُسْلِ الْفَرْجِ وَالْوُضُوْءِ) لِمَا صَحَّ مِنَ الْأَمْرِ بِهِ فِي الْجِمَاعِ وَلِلْاِتِّبَاعِ فِي الْبَقِيَّةِ إِلَّا الشُّرْبَ فَمَقِيْسٌ عَلَى الْأَكْلِ
“Dimakruhkan bagi junub, makan, minum, tidur dan bersetubuh sebelum membasuh kemaluan dan berwudhu. Karena ada hadits shahih yang memerintahkan hal demikian dalam permasalahan bersetubuh, dan karena mengikuti sunah Nabi dalam persoalan lainnya, kecuali masalah minum, maka dianalogikan dengan makan.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawim, Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jeddah, Dar al-Minhaj, 2011, juz 2, halaman 71)
Demikian yang dapat saya kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Saya terbuka untuk menerima kritik dan saran.
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "BERWUDHU BAGI ORANG JUNUB"