Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKAN DAN MINUM SAAT JUNUB


Hal-hal Yang Dilarang Ketika Sedang Junub


Islam mewajibkan pemeluknya untuk melaksanakan mandi besar saat junub. Mandi besar merupakan wujud bersuci untuk menghilangkan hadas besar, salah satunya junub.

Tetapi banyak orang sering menunda-nunda mandi besar setelah bersetubuh dengan pasangannya. Di antara mereka menyempatkan untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum melaksanakan mandi besar.

Apabila seseorang yang sedang junub belum mandi, maka tidak ada perkara yang dilarang, kecuali hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Di antara larangan itu adalah:

1. Shalat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ

“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci.” (Hr. Muslim: 1/204)

2. Menyentuh mushaf al-Quran, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh al-Quran, kecuali orang yang suci.” (Hr. Daruquthni: 1/122, Baihaqi: 1/88, Thabrani: 9/33; dinilai shahih oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil: 122)

3. Membaca al-Quran, sebagaimana dalam hadits,

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Rasulullah membacakan al-Quran kepada kami, kecuali ketika beliau sedang junub.” (Hr. Abu Daud: 229, Nasa’i: 1/144, Tirmizi: 146, Ibnu Majah: 594, Ibnu Hibban: 799, dan Ahmad: 1/83)

4. Tinggal di mesjid. Adapun sekadar lewat karena suatu kebutuhan adalah dibolehkan, sebagaimana firman-Nya,

… وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

“…Janganlah masuk mesjid sedangkan kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (Qs. An-Nisa`: 43)

Lantas bagaimanakah hukum makan dan minum saat junub? 

Mari kita lihat dalil, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini;

Sunan Abu Dawud
Kitab : Thaharah

Makannya orang yang junub


Hadits : 192

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ زَادَ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ يَدَيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ فَجَعَلَ قِصَّةَ الْأَكْلِ قَوْلَ عَائِشَةَ مَقْصُورًا وَرَوَاهُ صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ عَنْ الزُّهْرِيِّ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ عَنْ عُرْوَةَ أَوْ أَبِي سَلَمَةَ وَرَوَاهُ الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Qutaibah bin Sa'id mereka berdua berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihiwasallam apabila hendak tidur sedang beliau dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu dahulu sebagaimana wudhu beliau ketika hendak shalat. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbah Al-Bazzaz telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak dari Yunus dari Az-Zuhri dengan isnad dan maknanya, dia menambahkan; dan apabila beliau hendak makan, sedang beliau dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya terlebih dahulu. Abu Dawud berkata; Dan diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dari Yunus, dia menjadikan kisah makan sebagai perkataan Aisyah secara singkat. Dan diriwayatkan oleh Shalih bin Abu Al Akhdlar dari Az-Zuhri sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak, hanya saja dia mengebutkan; dari Urwah atau Abu Salamah. Dan diriwayatkan oleh Al Auza'i dari Yunus dari Az-Zuhri dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarak.


Para ulama pernah mengulas Panjang lebar mengenai hal ini. Salah satu ulama yang juga membahas hukum makan dan minum saat junub adalah Syekh Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitabnya yang berjudul 
al-Minhaj al-Qawim.

Syekh Ibn Hajar Al-Haitami menyebutkan hukum makan dan minum bagi orang yang sedang junub adalah makruh.

Akan tetapi ia memberikan pengecualian, yaitu apabila ia telah membasuh kemaluannya dan berwudhu terlebih dahulu maka diperbolehkan makan dan minum.

Artinya, meskipun sebelum mandi besar, namun seseorang yang junub telah berwudhu dan membasuh kemaluannya maka hukum makruhnya untuk makan dan minum sudah hilang.

Penjelasan Dalam Kitab


Dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, Syekh Ibn Hajar Al-Haitami menjelaskan hukum makan dan minum saat junub sebagai berikut:

“ Dan dimakruhkan bagi orang yang junub, yakni makan, minum dan berhubungan badan sebelum membasuh kemaluan dan berwudhu karena terdapat keterangan (nash) perintah untuk seperti itu, jimak, ikut pada sisanya. Kecuali pada minum, maka minum itu diqiyaskan pada makan. Begitu pula pada wanita yang putus (selesai) dari haid dan nifas, maka makruh pula bagi wanita tersebut untuk melakukan makan, minum, dan jimak (sebelum mandi besar). Bahkan wanita haid dan nifas itu lebih utama (untuk mendapatkan status makruh).”

Keterangan Syekh Ibn Hajar Al-Haitami tersebut juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in sebagai berikut:

“ Disunahkan bagi rang yang junub, haid, dan nifas yang sudah selesai masa keluarnya darah (untuk) membasuh kemaluan dan wudhu untuk melaksanakan tidur, makan, dan minum. Dan hal pekerjaan tersebut dimakruhkan apabila dikerjakan tanpa berwudhu.”

Begitu juga dijelaskan dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Imam Jarnuzi disebutkan, seseorang sebaiknya ketika dalam keadaan junub lantas makan, atau kalau dalam pagi hari biasanya sarapan, sebaiknya ditinggalkan. Aktivitas ini ternyata memiliki banyak mudharat (keburukan).

Untuk itulah, para ulama menyarankan selepas bercinta atau berhubungan badan suami-istri, sebaiknya segera mandi wajib untuk menghilangkan hadas.

Mandi wajib bukan sekadar untuk menghilangkan kotoran dalam tubuh semata, tapi juga sebagai sarana memulai sesuatu dalam keadaan suci. 

Makan dalam kondisi junub, menurut Imam Zarnuji dalam kitab Ta’lim, digolongkan perkara yang bisa mempersempit jalannya pintu rezeki. Sama seperti halnya tidur pagi usai subuh atau aktivitas lain seperti jarang sedekah atau semacamnya.

Anjuran ini salah satunya terkait etika. Baiknya menjemput rezeki dalam keadaan kita bebas dari hadas dan bukan dalam keadaan junub.
Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "MAKAN DAN MINUM SAAT JUNUB"

close