Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BERJABAT TANGAN KETIKA JUNUB


Orang berjunub harus meniatkan mandinya untuk menghilangkan hadas besar. Niat tersebut untuk membedakan antara mandi biasa dengan mandi junub atau mandi besar. 
Mereka tidak boleh mengerjakan ibadah shalat, thawaf, dan ibadah lainnya sebelum mandi. Mandi besar dikatakan sah bila diniatkan mandi junub.

Tetapi, apakah artinya tubuh orang junub itu najis?

orang junub sejatinya tidaklah najis. Dia tetap bisa berinteraksi dengan orang lain, bahkan sampai bersentuhan kulit seperti berjabat tangan.

Berjabat Tangan


Berjabat tangan merupakan amalan yang mula-mula diamalkan oleh penduduk Yaman. Rasulullah SAW senantiasa berjabat tangan ketika berjumpa dengan sahabat-sahabatnya. Abu Dzar berkata: “Aku tidak pernah berjumpa dengan Beliau, kecuali Beliau menjabat tanganku. Suatu hari, Beliau mengutus utusan kepadaku saat aku tidak ada di rumah. Ketika kembali ke rumah, aku diberi kabar bahwa Beliau telah mengutus seorang utusan kepadaku. Maka aku mendatanginya saat Beliau berada di atas pembaringan, lantas Beliau memelukku. Maka pelukan itu lebih indah, dan lebih indah”.

Amalan berjabat tangan juga dikerjakan oleh para sahabat, khususnya pada saat saling berjumpa. Dari Qatadah, ia berkata: aku bertanya pada Anas; “Apakah di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW biasa berjabat tangan?” Dia menjawab, “Ya”.

Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam riwayat hadits berikut ini;

Sunan Abu Dawud
Kitab : Thaharah

Orang junub berjabat tangan


Hadits : 199

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ وَاصِلٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَهُ فَأَهْوَى إِلَيْهِ فَقَالَ إِنِّي جُنُبٌ فَقَالَ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Mis'ar dari Washil dari Abu Wa`il dari Hudzaidfah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertemu dengannya, kemudian beliau mengulurkan tangan kepadanya (untuk berjabat tangan). Namun Hudzaifah berkata; Sesungguhnya saya sedang junub. Maka beliau bersabda: "Sesungguhnya orang muslim itu tidak najis".


Hadits : 200

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَبِشْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ بَكْرٍ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَأَنَا جُنُبٌ فَاخْتَنَسْتُ فَذَهَبْتُ فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ فَقَالَ أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ
و قَالَ فِي حَدِيثِ بِشْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ حَدَّثَنِي بَكْرٌ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dan Bisyr dari Humaid dari Bakr dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah dia berkata; bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertemu denganku di salah satu jalan Madinah, sedang saya dalam keadaan junub. Maka saya menyelinap, lalu pergi untuk mandi. Kemudian saya datang menghadap beliau. Beliau bersabda: "Di mana kamu tadi wahai Abu Hurairah?" Abu Hurairah menjawab; Sesungguhnya tadi saya sedang junub, karena itu saya tidak suka duduk bersamamu dalam keadaan tidak suci. Maka beliau bersabda: "Subhaanallah (Maha Suci Allah), sesungguhnya Muslim itu tidak najis. Dan dia berkata di dalam hadits Bisyr; Telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepadaku Bakr.



Berdasarkan hadits di atas, meskipun orang junub tidak boleh mengerjakan ibadah, tapi bukan berati mereka najis. Jadi jangan sampai alergi kalau disentuh orang junub. 
Rasulullah menegaskan bahwa orang mukmin itu tidak najis. Hanya diwajibkan mandi besar dan tidak boleh melakukan ibadah tertentu sebelum mandi. Selain dari itu, misalkan bertemu orang atau bergaul dengan manusia tetap dibolehkan.

Salah satu diantara beberapa hal yang boleh dilakukan oleh orang yang junub adalah berjalan di jalan umum dan berjabat tangan.

Orang Junub Keluar Dari Rumahnya


Tidak mengapa orang junub keluar dari rumahnya, berjalan di jalan umum, duduk bersama orang lain dan berbincang-bincang dengan mereka.

Hal ini pernah terjadi pada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia keluar dari rumahnya dalam keadaan junub dan berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di jalanan. Abu Hurairah berkata,

لَقِيَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جُنُبٌ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَمَشَيْتُ مَعَهُ حَتَّى قَعَدَ، فَانْسَلَلْتُ، فَأَتَيْتُ الرَّحِلَ، فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ، وَهُوَ قَائِدٌ. فَقَالَ: أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هِرٍّ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، يَا أَبَا هِرٍّ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku ketika aku dalam keadaan junub. Beliau memegang tanganku. Akupun berjalan bersama beliau sampai beliau duduk. Setelah itu aku menyelinap dengan sembunyi-sembunyi dan pulang ke rumah, lalu aku mandi, kemudian datang lagi menemui beliau yang sedang duduk.

Beliau bertanya, “Dari mana engkau tadi, wahai Aba Hirr (yakni Abu Hurairah)?”

Aku menceritakan apa yang kualami. Beliau bersabda, “Subhanallah, wahai Aba Hirr! Sungguh, mukmin itu tidaklah najis.”

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu memiliki kisah yang hampir sama dengan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengannya, kemudian beliau mengulurkan tangan kepadanya (mengajak berjabat tangan)

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku sedang junub.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

“Sungguh, seorang muslim itu tidaklah najis.”

 
Demikianlah pembahasan singkat mengenai orang junub berjabat tangan. Dengan kesimpulan bahwa diperbolehkannya berjabat tangan karena sesungguhnya orang junub itu bukanlah najis. Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan umatnya dalam mengatur hubungan diantara sesama manusia. Dimana fungsi Berjabat Tangan dapat juga menghilangkan kedengkian sebagaimana
Sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْ

Artinya: Dari ‘Atha bin Abu Muslim Abdullah al-Khurasani berkata, “Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan

Wallahu 'Alam.

Posting Komentar untuk "BERJABAT TANGAN KETIKA JUNUB"

close