ZUHUD TERHADAP DUNIA AKAN DICINTAI ALLAH
Amalan Zuhud
Terdapat beragam amal kebajikan yang jika dilakukan akan memberikan kebaikan bagi pelakunya, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadist menjelaskan tentang amalan yang bila dikerjakan akan dicintai Allah SWT. Menurut Rasulullah amalan itu adalah zuhud di dunia. Zuhud dalam sesuatu (al-zuhd fi al-sya'i) menurut bahasa artinya berpaling dari sesuatu yang bersifat duniawi. Karena menganggap hal yang bersifat duniawi itu hina, remeh dan tidak membutuhkannya.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Arbain An-Nawawiyah mengutip hadits tentang penjelasan Rasulullah mengenai keutamaan amalan zuhud.
Hadits Arbain Nawawi
الحــديث الحادي والثلاثون
HADITS KETIGAPULUH SATU
عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ .
[حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.
(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan) .
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan zuhud. Zuhud ada dua macam, yaitu 1) zuhud terhadap dunia, inilah mendatangkan kecintaan Allah terhadap seseorang; dan 2) zuhud terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain, artinya kita tidak beberharaparap/minta/dikasih dari orang lain.
Zuhud Terhadap Dunia
Orang yang zuhud terhadap dunia akan dicintai oleh Allah ﷻ karena Allah mencela orang-orang yang mendahulukan kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat.
Dalam Al-Qurān Allah berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi kalian mendahulukan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”
Dalam ayat yang lain, kata Allah ﷻ ,
تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ
“Kalian menghendaki perbendaharaan dunia padahal Allah menghendaki akhirat.”
Dalam ayat yang lain,:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ
“Katakanlah, bahwasanya perhiasan dunia itu sedikit dan akhirat lebih baik bagi yang bertakwa.”
Perhiasan/harta dunia sedemikian indah dan menawan di hadapan kita ini, di sisi Allah sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan akhirat. Kita bisa renungkan hadis Rasulullāh ﷺ,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat yang dikerjakan sebelum (qabliyyah) salat Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
Maksudnya, ganjaran yang Allah siapkan di akhirat kelak bagi yang senantiasa salat 2 rakaat sebelum salat Shubuh adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Seluruh kenikmatan dunia dan seisinya ini akan kalah dengan ganjaran yang Allah sediakan bagi orang yang salat 2 rakaat sebelum Shubuh.
Dalam hadis yang lain Rasulullāh ﷺ mengatakan,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia itu nilainya di sisi Allah seperti sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minuman kepada seorang kafir.”
Karena dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, maka Allah berikan juga kepada orang kafir. Seandainya dunia itu bernilai, maka Allah tidak akan memberikan sama sekali kepada orang kafir dan akan Allah khususkan saja bagi orang beriman. Kenyataannya, Allah memberikan dunia kepada orang kafir sebagaimana juga Allah berikan dunia kepada orang mukmin.
Namun saya ingatkan! Jangan disalah pahami bahwasanya tidak boleh mencari dunia sama sekali. Dunia itu tercela bukan karena zatnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jāmi’ul ‘Ulūm wal Hikam. Beliau menyebutkan bahwasanya dunia itu tercela bukan karena zatnya tetapi karena kebanyakan manusia mendahulukan dunia daripada akhirat. Dunia tercela tatkala manusia menjadikan dunia sebagai tujuannya.
Ibnu Rajab berkata :
وَاعْلَمْ أَنَّ الذَّمَّ الوَارِدَ فِيْ الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لِلدُّنْيَا لَيْسَ هُوَ رَاجِعاً إِلَى زَمَانِهَا الَّذِيْ هُوَ اللَّيلُ وَالنَّهَارُ، الْمُتَعَاقِبَانِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، فَإِنَّ اللهَ جَعَلَهُمَا خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَاْدَ شُكُوْراً… وَلَيْسَ الذَّمُّ رَاجِعاً إِلَى مَكَانِ الدُّنْيَا الَّذِيْ هُوَ الأَرْضُ الَّتِيْ جَعَلَهَا اللهُ لِبَنِيْ آدَمَ مِهَاداً وَسَكَناً، وَلَا إِلَى مَا أَوْدَعَهُ اللهُ فِيْهَا مِنَ الْجِبَالِ وَالبِحَارِ وَالأَنْهَارِ وَالْمَعَادِنِ، وَلَا إِلَى مَا أَنْبَتَهُ فِيْهَا مِنَ الشَّجَرِ وَالزَّرْعِ، وَلَا إِلَى مَا بَثَّ فِيْهَا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ بِمَا لهُمْ فِيْهِ مِنَ الْمَنَافِعِ، وَلَهُمْ بِهِ مِنَ الِاعْتِبَارِ وَالاِسْتِدْلَالِ عَلَى وِحْدَانيَّةِ صَانِعِهِ وَقُدْرَتِهِ وَعَظَمَتِهِ، وَإنَّمَا الذَّمُّ رَاجِعٌ إِلَى أَفْعَالِ بَنِيْ آدَمَ الوَاقِعَة فِيْ الدُّنْيَا؛ لِأَنَّ غَالِبَهَا وَاقِعٌ عَلَى غَيْرِ الوَجْهِ الَّذِيْ تُحمَدُ عَاقِبَتُهُ، بَلْ يَقَعُ عَلَى مَا تَضُرُّ عَاقِبَتُهُ، أَوْ لَا تَنْفَعُ
“Ketahuilah bahwasanya celaan yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah kepada dunia, tidaklah tertuju kepada perputaran masa di dunia -yaitu siang dan malam yang silih berganti hingga hari kiamat- karena Allah menjadikan siang dan malam silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur…
Dan celaan tidak juga tertuju kepada tempat dunia yaitu bumi yang telah Allah jadikan sebagai hamparan dan tempat tinggal bagi anak keturunan Adam. Dan tidak pula celaan tertuju kepada apa-apa yang Allah siapkan di dunia seperti gunung, lautan, sungai, logam-logam, tidak juga tertuju kepada apa yang Allah tumbuhkan di bumi, seperti pepohonan dan tanaman, dan tidak juga tertuju pada apa yang Allah tebarkan di bumi seperti hewan-hewan dan yang lainnya. Sesungguhnya itu semua merupakan karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya yang penuh manfaat bagi mereka. Celaan hanyalah tertuju kepada perbuatan dan sikap hamba yang mereka lakukan terhadap dunia, karena kebanyakan perbuatan mereka terjadi tidak sesuai dengan yang seharusnya, akan tetapi terjadi dengan kondisi yang memberi kemudaratan bagi mereka atau tidak bermanfaat bagi mereka.”
Jadi, dunia ini pada zatnya sendiri tidak tercela karena dunia ini bisa bermata dua; bisa bermanfaat untuk akhirat seseorang dan bisa juga mencelakakan akhirat seseorang. Bukankah dalam banyak ayat Kitab Suci Al-Qur’an dan hadis Rasulullāh ﷺ dianjurkan untuk bersedekah, memberi manfaat, memberi hadiah, menyenangkan orang lain?
Kita beri hadiah dan pekerjaan kepada orang lain, kita membantu orang lain. Ini semua berkaitan dengan dunia. Semua butuh dengan dunia, jadi beramal saleh membutuhkan kepemilikan berbagai hal di dunia.
Oleh karenanya, dunia itu menjadi terpuji tatkala dijadikan sarana untuk mencapai akhirat dan bukan menjadi tujuan utama. Oleh karenanya, di antara doa Rasulullah ﷺ adalah
وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai tujuan utama kehidupan kami.”
Seseorang yang menjadikan dunia sebagai puncak tujuannya, maka dia akan lelah. Bahkan orang kaya pun akan lelah. Anda kira orang kaya tatkala mencapai harta yang begitu banyak, dia tidak lelah? Dia lelah, meskipun dia seorang bos yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Dia akan lelah berfikir; kalau ada kerugian dan musibah maka dia akan pusing/stres, karena dia menjadikan dunia sebagai tujuannya.
Tetapi kalau orang kaya yang menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai akhirat, dia akan bekerja dengan senang (bahagia) karena saat bekerja dia tahu bahwa hartanya akan digunakan untuk berinfak di jalan Allah. Tatkala membantu fakir miskin, dia gembira. Tatkala membangun pondok atau masjid, dia bahagia. Tatkala pondoknya ditempati oleh orang (untuk belajar), dia bahagia. Bisa berbakti kepada orang tua, dia bahagia. Oleh karenanya, jika seseorang menjadikan dunia sebagai tujuannya (maka) dia akan tersiksa dan sengsara. Dan barang siapa yang menjadikan dunia bukan sebagai tujuannya (maka) dia akan zuhud terhadap dunia. Meskipun dia memiliki dunia yang banyak tetapi dunia tidak masuk ke hatinya dan hanya di tangannya karena dia tahu dunia itu hanyalah alat untuk mencapai akhirat, bukan tujuan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang-orang yang zuhud sehingga kita dicintai oleh Allah ﷻ . Amiin.


Posting Komentar untuk "ZUHUD TERHADAP DUNIA AKAN DICINTAI ALLAH"